Tag: Weton Jawa

  • Kalender Jawa Januari 2025: Weton, Neptu, dan Informasi Lengkap

    Kalender Jawa adalah sistem penanggalan tradisional yang masih digunakan oleh masyarakat Jawa untuk berbagai keperluan, seperti menentukan hari baik, memprediksi karakter seseorang melalui Weton Jawa, hingga menyelaraskan tradisi dan budaya lokal. Pada artikel ini, kita akan membahas secara lengkap Kalender Jawa Januari 2025, termasuk informasi Weton Jawa, nilai Neptu, dan penanggalan Hijriyah yang relevan.

    Apa Itu Kalender Jawa?

    Kalender Jawa merupakan sistem penanggalan yang menggunakan gabungan siklus hari dan siklus pasaran. Dalam satu minggu, terdapat dua siklus:

    1. Siklus Hari: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu.
    2. Siklus Pasaran: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.

    Kombinasi keduanya menghasilkan Weton Jawa, yang memiliki nilai penting dalam budaya Jawa. Weton sering digunakan untuk menentukan hari baik, seperti pernikahan, pindah rumah, dan acara adat lainnya.

    Penanggalan Kalender Jawa Januari 2025

    Kalender Jawa pada Januari 2025 terdiri dari berbagai informasi menarik, termasuk tanggal Hijriyah, nama bulan Jawa, dan nilai Neptu Weton. Berikut adalah rincian pentingnya:

    1. Bulan dan Nama Pasaran Jawa
      Kalender Jawa terdiri dari 12 bulan dengan nama-nama yang dipengaruhi oleh bahasa Arab namun diucapkan dalam bahasa Jawa, seperti:
      • Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkaidah, dan Besar. Bulan Januari 2025 jatuh pada bulan Rejeb, yang setara dengan bulan Rajab dalam kalender Hijriyah.
    2. Pergantian Hari dalam Kalender Jawa
      Berbeda dengan kalender Masehi, pergantian hari dalam Kalender Jawa dimulai setelah matahari terbenam, yakni saat waktu Magrib tiba. Hal ini membuat penanggalan Jawa memiliki keunikan tersendiri.

    Weton Jawa 16 Januari 2025: Kamis Pon

    Tanggal 16 Januari 2025 dalam Kalender Jawa memiliki rincian berikut:

    • Hari: Kamis
    • Pasaran: Pon
    • Tanggal Hijriyah: 16 Rajab 1446
    • Tanggal Jawa: 16 Rejeb 1958
    • Weton: Kamis Pon
    • Neptu: 15 (nilai Kamis 8 + nilai Pon 7)
    • Wuku: Wayang

    Weton Kamis Pon memiliki Neptu 15, yang sering dianggap memiliki karakteristik tertentu dalam tradisi Jawa. Selain itu, tanggal ini jatuh dalam siklus Wuku Wayang, yang dimulai pada 12 Januari dan berakhir pada 18 Januari 2025.

    Baca Juga: Cara Mengetahui Karakteristik Seseorang Dengan Hitungan Weton Jawa

    Nilai Neptu Weton Jawa

    Neptu adalah jumlah nilai gabungan dari hari dan pasaran. Berikut adalah daftar lengkap Neptu untuk setiap kombinasi hari dan pasaran:

    • Senin Kliwon = 12
    • Selasa Wage = 7
    • Kamis Pon = 15
    • Sabtu Pahing = 18
    • (Lihat tabel lengkap pada artikel ini untuk semua kombinasi.)

    Dengan memahami Neptu, masyarakat Jawa dapat menentukan hari-hari penting seperti pernikahan, perjalanan, atau ritual tradisional lainnya.

    Baca Juga: Menghitung Weton Jawa dan Tafsir dengan akurat

    Kalender Jawa Januari 2025 Lengkap

    Berikut adalah Kalender Jawa Januari 2025 yang lebih lengkap, mencakup tanggal Masehi, tanggal Hijriyah, tanggal Jawa, Weton Jawa, dan nilai Neptu.

    1. 1 Januari 2025: 1 Rejeb 1958 (Rabu Pon, Neptu 14)
    2. 2 Januari 2025: 2 Rejeb 1958 (Kamis Wage, Neptu 12)
    3. 3 Januari 2025: 3 Rejeb 1958 (Jumat Kliwon, Neptu 14)
    4. 4 Januari 2025: 4 Rejeb 1958 (Sabtu Legi, Neptu 14)
    5. 5 Januari 2025: 5 Rejeb 1958 (Minggu Pahing, Neptu 14)
    6. 6 Januari 2025: 6 Rejeb 1958 (Senin Pon, Neptu 11)
    7. 7 Januari 2025: 7 Rejeb 1958 (Selasa Wage, Neptu 7)
    8. 8 Januari 2025: 8 Rejeb 1958 (Rabu Kliwon, Neptu 15)
    9. 9 Januari 2025: 9 Rejeb 1958 (Kamis Legi, Neptu 13)
    10. 10 Januari 2025: 10 Rejeb 1958 (Jumat Pahing, Neptu 15)
    11. 11 Januari 2025: 11 Rejeb 1958 (Sabtu Pon, Neptu 16)
    12. 12 Januari 2025: 12 Rejeb 1958 (Minggu Wage, Neptu 9)
    13. 13 Januari 2025: 13 Rejeb 1958 (Senin Kliwon, Neptu 12)
    14. 14 Januari 2025: 14 Rejeb 1958 (Selasa Legi, Neptu 8)
    15. 15 Januari 2025: 15 Rejeb 1958 (Rabu Pahing, Neptu 16)
    16. 16 Januari 2025: 16 Rejeb 1958 (Kamis Pon, Neptu 15)
    17. 17 Januari 2025: 17 Rejeb 1958 (Jumat Wage, Neptu 10)
    18. 18 Januari 2025: 18 Rejeb 1958 (Sabtu Kliwon, Neptu 17)
    19. 19 Januari 2025: 19 Rejeb 1958 (Minggu Legi, Neptu 10)
    20. 20 Januari 2025: 20 Rejeb 1958 (Senin Pahing, Neptu 13)
    21. 21 Januari 2025: 21 Rejeb 1958 (Selasa Pon, Neptu 10)
    22. 22 Januari 2025: 22 Rejeb 1958 (Rabu Wage, Neptu 11)
    23. 23 Januari 2025: 23 Rejeb 1958 (Kamis Kliwon, Neptu 16)
    24. 24 Januari 2025: 24 Rejeb 1958 (Jumat Legi, Neptu 11)
    25. 25 Januari 2025: 25 Rejeb 1958 (Sabtu Pahing, Neptu 18)
    26. 26 Januari 2025: 26 Rejeb 1958 (Minggu Pon, Neptu 12)
    27. 27 Januari 2025: 27 Rejeb 1958 (Senin Wage, Neptu 8)
    28. 28 Januari 2025: 28 Rejeb 1958 (Selasa Kliwon, Neptu 11)
    29. 29 Januari 2025: 29 Rejeb 1958 (Rabu Legi, Neptu 12)
    30. 30 Januari 2025: 30 Rejeb 1958 (Kamis Pahing, Neptu 17)
    31. 31 Januari 2025: 1 Ruwah 1958 (Jumat Pon, Neptu 13)

    Penjelasan:

    • Tanggal Hijriyah untuk bulan Januari 2025 adalah dari 1 Rajab 1446 hingga 1 Syakban 1446.
    • Weton Jawa di setiap tanggal terdiri dari kombinasi hari Masehi dan hari pasaran Jawa.
    • Neptu adalah nilai kombinasi hari dan pasaran, yang memiliki makna khusus dalam budaya Jawa.

    Catatan: Informasi ini dilengkapi dengan tanggal Hijriyah untuk membantu memahami hubungan antara Kalender Jawa dan sistem penanggalan Islam.

    Baca Juga: Mengenal Rasi Bintang dalam Astronomi Jawa


    Mengapa Kalender Jawa Penting?

    Kalender Jawa tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya yang mendalam. Kombinasi hari dan pasaran atau Weton memberikan makna filosofis yang diyakini dapat menentukan karakter dan keberuntungan seseorang. Hingga kini, Kalender Jawa digunakan untuk:

    1. Menentukan hari baik: Pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha.
    2. Mengenali karakter seseorang: Berdasarkan nilai Neptu dan Weton kelahiran.
    3. Melestarikan tradisi dan budaya Jawa: Sebagai warisan tak ternilai yang terus dipelajari dan diaplikasikan.

    Kalender Jawa Januari 2025 menawarkan informasi lengkap mengenai Weton, Neptu, dan hubungan dengan penanggalan Hijriyah. Tanggal 16 Januari 2025 adalah hari Kamis Pon dengan Neptu 15, yang menjadi bagian dari tradisi Jawa yang kaya akan makna. Dengan memahami Kalender Jawa, kita tidak hanya menghormati tradisi, tetapi juga menjaga kelestarian budaya Nusantara.

    Temukan lebih banyak informasi tentang Weton dan Kalender Jawa lainnya hanya di sini!


    Jika Anda membutuhkan revisi tambahan atau pengayaan konten, beri tahu saya!

  • Menghitung Weton Jawa dan Tafsir dengan akurat

    Penanggalan Jawa adalah sistem kalender unik yang dikembangkan oleh leluhur masyarakat Jawa, memiliki siklus yang kompleks dengan makna mendalam dalam setiap siklus hari, bulan, hingga tahun. Dalam tradisi ini, hari-hari dalam sepekan dikenal sebagai “pasaran,” yang terbagi ke dalam lima hari khusus, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi antara pasaran ini dan hari dalam pekan biasa (Senin hingga Minggu) menghasilkan siklus 35 hari yang disebut sebagai “weton.”

    Artikel ini akan mengulas siklus kalender Jawa dan relevansi weton Jawa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pasaran hingga perhitungan weton untuk kecocokan jodoh.


    Siklus Hari Pasaran dalam Penanggalan Jawa

    Dalam kalender Jawa, lima hari pasaran yang disebutkan tadi memiliki makna dan karakteristik tersendiri. Siklus lima hari ini sering digunakan dalam berbagai upacara adat, hari baik, hingga perhitungan karakter seseorang.

    • Legi: Hari yang identik dengan kelembutan dan kebahagiaan.
    • Pahing: Mengandung energi yang kuat dan sering diasosiasikan dengan kekuatan.
    • Pon: Hari yang cenderung netral, tapi memiliki aspek spiritual.
    • Wage: Hari yang tenang, ideal untuk refleksi.
    • Kliwon: Hari yang berenergi spiritual tinggi, banyak dipilih untuk kegiatan adat atau ritual.

    Kombinasi pasaran dan hari biasa ini menghasilkan siklus 35 hari, yang banyak digunakan untuk menentukan hari-hari penting, seperti kelahiran dan pernikahan.

    Siklus Bulan dalam Penanggalan Jawa

    Penanggalan Jawa juga mengenal siklus bulan, yang terdiri dari 12 bulan dalam setahun, meskipun perhitungannya sedikit berbeda dari kalender Masehi:

    1. Suro
    2. Sapar
    3. Mulud
    4. Bakda Mulud
    5. Jumadil Awal
    6. Jumadil Akhir
    7. Rejeb
    8. Ruwah
    9. Pasa
    10. Syawal
    11. Dulkaidah
    12. Besar

    Masing-masing bulan memiliki karakteristik tertentu yang erat kaitannya dengan kegiatan ritual dan kepercayaan tradisional Jawa.

    Siklus Tahun dalam Penanggalan Jawa

    Selain siklus bulan, kalender Jawa juga mengenal siklus tahunan yang disebut “windu.” Siklus ini memiliki siklus 8 tahun, yang masing-masing tahunnya memiliki nama:

    1. Alip
    2. Ehe
    3. Jimawal
    4. Je
    5. Dal
    6. Be
    7. Wawu
    8. Jimakir

    Setiap nama tahun dalam siklus ini diyakini membawa energi tertentu dan sering digunakan untuk meramalkan berbagai peristiwa besar.

    Wuku dan Neptu

    Dalam perhitungan kalender Jawa, terdapat konsep wuku dan neptu yang penting. Wuku merupakan siklus 30 minggu, sementara neptu adalah nilai angka yang diberikan pada masing-masing hari dan pasaran. Nilai neptu ini nantinya akan menjadi dasar dalam perhitungan weton, yang digunakan untuk memahami karakter atau menentukan kecocokan jodoh.

    Hubungan Weton dengan Primbon Jawa

    Dalam budaya Jawa, Primbon adalah kitab atau pedoman yang memuat berbagai panduan hidup, salah satunya adalah perhitungan weton. Weton tidak hanya mencerminkan tanggal kelahiran seseorang tetapi juga digunakan sebagai acuan dalam melihat kecocokan antara dua individu, terutama dalam hal perjodohan. Primbon Jawa ini menjadi referensi utama dalam berbagai perhitungan penting dalam hidup orang Jawa.

    Baca Juga: Mengenal Rasi Bintang dalam Astronomi Jawa

    Tabel Neptu Jawa dan Cara Menghitung Weton

    Berikut adalah tabel neptu hari dan pasaran yang biasa digunakan dalam menghitung weton:

    HariNeptuPasaranNeptu
    Minggu5Legi5
    Senin4Pahing9
    Selasa3Pon7
    Rabu7Wage4
    Kamis8Kliwon8
    Jumat6
    Sabtu9

    Untuk menghitung weton seseorang, kita menjumlahkan neptu dari hari dan pasaran kelahirannya. Misalnya, seseorang yang lahir pada hari Selasa Pon memiliki weton sebesar (3 + 7 = 10).

    Arti dari Hasil Perhitungan Neptu Weton Jodoh

    Dalam Primbon Jawa, hasil perhitungan neptu weton untuk perjodohan diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori yang memiliki arti tersendiri:

    1. Pegat (1, 9, 10, 18, 19, 27, 28, 36): Artinya, hubungan tersebut memiliki banyak tantangan dan hambatan yang berat.
    2. Ratu (2, 11, 20, 29): Kategori ini menggambarkan pasangan yang harmonis dan memiliki banyak keberuntungan.
    3. Jodoh (3, 12, 21, 30): Pasangan ini dinilai serasi dan cenderung langgeng.
    4. Topo (4, 13, 22, 31): Hubungan ini mungkin menghadapi berbagai ujian hidup.
    5. Tinari (5, 14, 23, 32): Menunjukkan kebahagiaan dan rezeki yang melimpah.
    6. Padu (6, 15, 24, 33): Hubungan yang mungkin sering diwarnai dengan perselisihan kecil.
    7. Sujanan (7, 16, 25, 34): Cenderung ada pihak ketiga dalam hubungan ini.
    8. Pesthi (8, 17, 26, 35): Pasangan ini cenderung harmonis, tenteram, dan langgeng.

    Pembagian Neptu yang Masih Memiliki Perhitungan

    Selain weton, dalam Primbon juga dikenal istilah neptu khusus yang diterapkan dalam berbagai keperluan lain, seperti mencari waktu baik untuk memulai usaha atau bercocok tanam. Pembagian neptu ini sering kali digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan.

    Apa Fungsi dari Kitab Primbon Jawa?

    Kitab Primbon Jawa adalah panduan yang menjadi pedoman masyarakat Jawa dalam menghadapi berbagai aspek kehidupan. Dalam Primbon, terdapat perhitungan untuk perjodohan, kesehatan, peruntungan, hingga ramalan masa depan. Kitab ini dipercaya sebagai sumber kearifan lokal yang kaya dan masih dilestarikan hingga saat ini.

    Bagaimana Cara Menghitung Weton Jawa?

    Untuk menghitung weton, kita dapat menggunakan langkah sederhana sebagai berikut:

    1. Tentukan hari dan pasaran kelahiran.
    2. Cari nilai neptu untuk hari dan pasaran tersebut.
    3. Jumlahkan kedua nilai tersebut untuk mendapatkan neptu weton.

    Sebagai contoh, jika seseorang lahir pada Jumat Kliwon, maka neptunya adalah (6 + 8 = 14).


    Baca Juga: Cara Mengetahui Karakteristik Seseorang Dengan Hitungan Weton Jawa

    Demikianlah uraian tentang siklus kalender Jawa beserta cara perhitungan weton dan penggunaannya dalam kehidupan masyarakat Jawa. Meski berusia ratusan tahun, tradisi ini tetap relevan dan banyak dijadikan panduan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai tradisional.

  • Mengenal Rasi Bintang dalam Astronomi Jawa

    Istilah-istilah seperti Orion, Sagitarius, Aries, Ursa Mayor, Scorpio mungkin sudah gak asing di telinga kita. Itu semua adalah nama rasi bintang menurut ilmu Astronomi Barat. Namun, yang akan kita bahas kali ini bukanlah rasi bintang berdasarkan Astronomi Barat, melainkan rasi bintang dalam ilmu Astronomi Jawa.

    Budaya Jawa memang punya ilmu astronominya sendiri. Sejak dahulu kala, masyarakat Jawa sudah mengenal rasi bintang dan menciptakan nama-nama khusus menggunakan Bahasa Jawa sesuai dengan pola bintang yang mereka lihat. 

    Berikut ini adalah beberapa nama rasi bintang terkenal yang ada dalam ilmu Astronomi budaya Jawa:

    1. Lintang Kartika

    Dalam budaya Jawa, Lintang Kartika merupakan nama untuk menyebut bintang Pleiades, yakni kumpulan 7 bintang yang terdiri dari Alcyone, Celaeno, Electra, Maia, Merope, Taygeta, dan Sterope. Jika diartikan, lintang dan kartika sebenarnya memiliki makna yang sama, yaitu bintang. Dari penggunaan dua kata yang maknanya sama ini, disebut-sebut menunjukkan betapa orang Jawa sangat mengistimewakan gugus bintang Pleiades. Maksudnya adalah bahwa orang Jawa menganggap Lintang Kartika atau bintang Pleiades sebagai “bintangnya bintang”.

    Bintang Pleiades atau Lintang Kartika ini sebenarnya bukanlah rasi bintang, melainkan gugus bintang atau yang biasa disebut asterism. Bagi masyarakat Jawa, Lintang Kartika memiliki peran penting dalam dunia pertanian. Ketika gugus bintang tersebut berada pada posisi 50º, maka ini menandakan datangnya Mangsa Kapitu atau musim ketujuh dalam kalender Pranata Mangsa. Dengan begitu, petani sudah bisa memindahkan bibit padi dari lahan pembibitan ke lahan utama.

    2. Lintang Klopo Doyong atau Lintang Banyak Angrem

    Astronomi Barat menamakan rasi bintang ini dengan nama Scorpio karena polanya dianggap mirip kalajengking. Namun, dalam astronomi Jawa lebih dikenal sebagai Lintang Klopo Doyong karena menurut pandangan orang Jawa, rasi bintang tersebut serupa pohon kelapa yang miring. Di sisi lain, ada juga masyarakat Jawa yang menyebut rasi Scorpio ini dengan nama Lintang Banyak Angrem.

    Dalam budaya Jawa, Lintang Klopo Doyong atau Lintang Banyak Angrem menjadi penanda mangsa kalima atau manggala. Apabila rasi bintang ini muncul di langit, artinya musim hujan akan segera datang.

    3. Lintang Waluku

    Dalam ilmu Astronomi Jawa, istilah Lintang Waluku digunakan untuk menyebut rasi bintang Orion. Lagi-lagi, pola rasi bintang dalam Astronomi Jawa ini sedikit berbeda dengan Astronomi Barat. Rasi Orion merupakan gambaran seorang pemburu dalam mitologi Yunani, sedangkan dalam persepsi orang Jawa tidak terlihat demikian; melainkan lebih tampak seperti bajak sawah atau luku. Oleh sebab inilah, dinamakan Lintang Waluku. Masyarakat Jawa menggunakan Lintang Waluku sebagai patokan datangnya musim tanam.

    4. Lintang Gubuk Penceng

    Lintang Gubuk Penceng merupakan nama yang disematkan oleh orang Jawa untuk rasi bintang Crux. Meskipun konstelasi Crux berbentuk salib, tetapi dalam Astronomi Jawa agak berbeda, yakni digambarkan seperti gubuk yang agak miring atau penceng. Maka dari itulah, orang Jawa menamakannya Lintang Gubuk Penceng.

    Bagi nelayan tradisional Jawa, Lintang Gubuk Penceng seringkali digunakan sebagai penunjuk arah selatan. Sebab, posisi rasi ini ada di langit selatan dan termasuk rasi bintang yang mudah diamati.

    5. Lintang Pedati Suwung

    Lintang Pedati Suwung adalah sebutan untuk rasi bintang Ursa Mayor dalam Astronomi Jawa. Lintang Pedati Suwung terdiri dari tujuh bintang besar. Penggambaran ini sesuai dengan pola rasi bintang Ursa Mayor yang memang terkenal mempunyai tujuh bintang besar, yaitu Alkaid, Mizar (Alcor), Alioth, Phecda, Megrez, Merak, dan Dubhe.

    Kelima rasi bintang di atas merupakan pola bintang yang cukup terkenal dalam budaya Jawa. Meskipun ada perbedaan penggambaran pola bintang antara budaya Jawa dengan Astronomi Barat, ini bukanlah yang perlu diperdebatkan. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar—sebab, antar satu budaya dengan budaya lainnya terkadang memang memiliki perspektif berbeda dalam melihat pola rasi bintang. Dengan kata lain, setiap budaya memiliki pola bintangnya masing-masing.

  • Cara Mengetahui Karakteristik Seseorang Dengan Hitungan Weton Jawa

    Jika orang-orang di negara barat mengenal zodiak sebagai astronomi atau ilmu perbintangan, di Jawa juga memiliki ilmu perbintangannya. Sama seperti zodiak yang melihat karakteristik seseorang melalui tanggal lahirnya, astronomi Jawa juga juga demikian. Bedanya, dalam astronomi Jawa yang dihitung adalah hari lahir beserta hari pasarannya.

    Di Jawa, sama seperti di kebanyakan orang di belahan dunia lainnya, yaitu memiliki 7 hari dalam seminggu yang seperti kita ketahui ada hari Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Namun bedanya, di Jawa juga mengenal yang namanya hari pasaran. Hari pasaran memiliki 5 hari, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.

    Nah, lalu bagaimana mengetahui karakteristik seseorang dengan mengandalkan hari lahir dan hari pasarannya? Oke mari kita bahas pelan-pelan. Tapi sebelumnya, perlu diketahui jika masyarakat Jawa menentukan hari itu menggunakan peredaran bulan mengelilingi bumi atau istilahnya Tahun Syamsiah. Jadi, pergantian hari itu dihitung ketika matahari terbenam dan bulan mulai terbit. Atau waktunya yah kira-kira sehabis Ashar lah yah.

    Lanjut ke hitungan hari dan pasaran. Yang mana setiap hari dan pasaran itu memiliki nilainya masing-masing. Dan dari nilai itulah kita dapat menghitung diri kita dan mengetahui karakteristiknya. Berikut tabel nilai dari setiap hari dan pasaran dalam kalender Jawa:

    HariNilaiPasaranNilai
    Ahad5Kliwon8
    Senin4Legi5
    Selasa3Pahing9
    Rabu7Pon7
    Kamis8Wage4
    Jumat6
    Sabtu9
    Tabel Hari dan Pasaran Kalender Jawa

    Nah dari data di atas kita dapat menemukan nilai diri kita atau orang jawa bilang namanya Neptu. Neptu itu adalah jumlah nilai hari dengan nilai pasaran. Misalkan kamu lahir hari Ahad Kliwon, maka neptu kamu adalah Ahad + Kliwon = 5 + 8 = 13. Atau misalkan kamu lahir di hari Selasa Pahing, maka neptu kamu adalah Selasa + Pahing = 3 + 9 = 12.

    Lalu setelah kita mengetahui neptu kita, bagaimana selanjutnya?

    Ada beberapa metode untuk mengetahui karakteristik seseorang berdasarkan neptunya. Namun karena yang akan aku bahas di sini adalah metode kelipatan 5, maka aku akan menjelaskan dengan metode kelipatan 5 saja.

    Karena yang akan kita gunakan adalah metode kelipatan 5, maka cara perhitunganya adalah neptu dibagi 5 lalu ambil sisanya. Misalkan jika pakai contoh di atas ada Ahad Kliwon dan Selasa Pahing maka hitungannya adalah untuk Ahad Kliwon neptunya kan 13, nah 13 itu dibagi 5. Hasilnya kan tidak habis yah, masih sisa, yaitu sisa 3. Nah 3 itulah yang kita pegang untuk melihat karakteristik kita. Anggaplah 3 itu kita beri nama angka ketetapan.

    Jadi, ada ketetapan baku tentang karakteristik manusia dalam hitungan weton metode kelipatan 5 ini. Setelah kita memperoleh angka ketetapan kita, maka kita harus melihat ketetapan bakunya.

    Jika angka ketetapan kita adalah 1, maka

    Orang yang memiliki karakteristik ini disebut sebagai orang yang Sri. Orang yang memiliki karakteristik Sri itu memiliki kelebihan dalam hal pengasihan. Orang-orang dalam karakteristik ini mudah disukai dan dicintai banyak orang. Biasanya memiliki kelebihan seperti paras yang rupawan, tutur kata yang lembut atau hal-hal lain yang membuat orang-orang senang dengan dirinya.

    Dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki karakteristik Sri ini, mereka harus dapat memanfaatkan koneksi-koneksi yang tercipta karena rasa suka dan cinta orang di sekitarnya terhadap dirinya. Jika dia justru memanfaatkannya untuk mendzolimi orang lain, maka tunggulah kehancurannya.

    Jika angka ketetapan kita adalah 2, maka

    Orang yang memiliki karakteristik ini disebut sebagai orang yang Rezeki. Yah seperti namanya, orang yang memiliki karakteristik ini selalu diberikan Rezeki yang cukup entah berupa materi, kesehatan, rasa nyaman, dll. Orang-orang yang memiliki karakteristik ini biasanya selalu hoki. Bisa jadi dia pintar, bisa jadi tidak, bisa jadi rupawan, bisa jadi tidak, bisa jadi kaya, bisa jadi tidak tapi kok ndilalah orang dalam karakteristik ini selalu hoki, rejekinya ada aja.

    Dengan kelebihan yang dimiliki karakter Rezeki ini, sepatutnya mereka dapat memanfaatkanya untuk kebaikan-kebaikan bagi sesama. Namun sifat Rejeki ini memiliki kelemahan jika tidak digunakan sebagaimana mestinya kelebihan yang ada, maka akan sulit berkembang, dia mungkin tidak akan jatuh, tapi akan begitu-begitu saja hidupnya.

    Jika angka ketetapan kita adalah 3, maka

    Orang yang memiliki karakteristik ini disebut sebagai orang yang Gedong. Orang ini disebut juga memiliki Balungan Gajah kalau kata orang Jawa. Maksudnya adalah orang ini memang terlahir untuk menjadi orang besar. Entah dia akan menjadi orang yang kaya raya, menjadi seorang yang dihormati, menjadi tokoh masyarakat. Pokoknya orang ini emang orang besar lahh.

    Dengan ketetapan yang dimiliki oleh orang Gedong ini, mereka memiliki suatu ujian. Ujianya adalah jika mereka tidak mampu menjadi seorang pengayom yang baik, sombong, dan suka merendahkan. Maka orang Gedong ini akan berakhir dalam kehancuran.

    Jika angka ketetapan kita adalah 4, maka

    Orang yang memiliki karakteristik ini disebut sebagai orang Loro. Loro di sini artinya adalah sakit. Di mana orang yang memiliki ketetapan ini biasanya hidupnya penuh dengan kesakitan. Entah sakit raganya, maupun batinnya. Mereka-mereka orang Loro ini sering disakiti, sering dikhianati, ditipu, dll.

    Tapi, orang dengan karakter Loro ini sangat baik untuk para lelaku tirakat. Karena hidupnya yang selalu penuh dengan kesakitan, jika berhasil mengambil segala hikmahnya, maka orang ini akan menjadi orang yang bersahaja, orang yang bijak.

    Jika angka ketetapan kita adalah 5 (berlaku juga untuk angka ketetapan 0 atau neptunya habis dibagi 5), maka

    Orang yang memiliki karakter ini disebut sebagai orang Pati. Pati di sini berarti kematian. Maksudnya, orang yang memiliki ketetapan Pati mau bagaimanapun akan susah. Semuanya akan mati. Usaha gagal, percintaan berantakan, yah pokoknya ngelakuin apapun gagal dah.

    Nah orang dalan ketetapan ini memang hari diruwat. Diruwat itu adalah melakukan prosesi pembersihan diri yang dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan melakukan ritual-ritual tertentu.

    Itulah cara mengetahui karakteristik seseorang menggunakan weton dengan metode kelipatan 5. Apa yang aku sajikan di sini boleh dipandang dari berbagai sudut keilmuan. Mau dari sudut budaya, mau dipercayai full, mau dipandang sebagai hiburan atau apapun yah sah-sah saja. Asalkan hal itu akan selalu membawa hal-hal positif dalam hidup kita.