Tag: Penyakit

  • Dislipidemia: Pengertian, Penyebab, Gejala, Penanganan, dan Kode ICD-10

    Dislipidemia adalah gangguan metabolisme lipid dalam tubuh yang ditandai dengan perubahan kadar lipid darah. Perubahan ini bisa berupa peningkatan komponen seperti kolesterol total, LDL (Low-Density Lipoprotein), dan trigliserida, atau penurunan kadar HDL (High-Density Lipoprotein), yang dikenal sebagai kolesterol baik.

    Penyakit ini menjadi salah satu faktor risiko utama berbagai kondisi kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, stroke, dan aterosklerosis. Pemahaman tentang penyebab, gejala, serta cara penanganannya sangat penting untuk mencegah komplikasi serius.


    Kode ICD-10 untuk Dislipidemia

    Kode ICD-10 untuk Dislipidemia
    Kode ICD-10 untuk Dislipidemia

    Dalam sistem klasifikasi penyakit internasional (ICD-10), dislipidemia memiliki kode spesifik untuk membantu dokter dan tenaga medis dalam diagnosis dan pelaporan. Berikut adalah kode yang relevan:

    • E78 – Gangguan metabolisme lipoprotein dan hiperlipidemia lainnya
      Rincian dari kode ini meliputi:
      • E78.0 – Hiperlipidemia murni (hiperkolesterolemia).
      • E78.1 – Hipertrigliseridemia.
      • E78.2 – Hiperlipidemia campuran (kombinasi LDL tinggi dan trigliserida tinggi).
      • E78.3 – Hiperkilomikronemia.
      • E78.4 – Gangguan metabolisme lipoprotein lainnya.
      • E78.5 – Hiperlipidemia yang tidak spesifik.

    Kode-kode ini digunakan dalam dokumentasi medis untuk pengobatan, klaim asuransi, dan penelitian epidemiologi terkait dislipidemia.


    Penyebab dan Faktor Risiko Dislipidemia

    Dislipidemia dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor genetik dan gaya hidup. Berikut adalah beberapa penyebab dan faktor risiko yang umum:

    1. Faktor Genetik
      Orang dengan riwayat keluarga yang menderita dislipidemia atau penyakit kardiovaskular memiliki risiko lebih tinggi. Kondisi ini dikenal sebagai familial hypercholesterolemia, di mana tubuh memiliki kesulitan memetabolisme kolesterol dengan baik.
    2. Pola Makan Tidak Sehat
      Diet tinggi lemak jenuh, lemak trans, gula, dan kolesterol merupakan salah satu pemicu utama dislipidemia. Konsumsi makanan seperti daging berlemak, produk susu tinggi lemak, makanan olahan, dan gorengan dapat meningkatkan kadar LDL dan trigliserida.
    3. Kurangnya Aktivitas Fisik
      Gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik dapat menyebabkan penurunan kadar HDL dan peningkatan LDL serta trigliserida.
    4. Obesitas
      Berat badan berlebih berhubungan erat dengan kadar lipid darah yang tidak normal. Obesitas visceral atau lemak yang terkonsentrasi di sekitar perut merupakan faktor risiko utama.
    5. Kondisi Medis Tertentu
      Penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan sindrom metabolik dapat meningkatkan risiko dislipidemia asupan tinggi kalori yang berlebihan turut memperburuk situasi.
    6. Penggunaan Obat-obatan
      Beberapa obat, seperti steroid, kontrasepsi hormonal, dan diuretik, dapat memengaruhi kadar lipid darah.
    7. Kebiasaan Merokok dan Konsumsi Alkohol
      Merokok menurunkan kadar HDL dan meningkatkan risiko aterosklerosis, sementara konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan trigliserida.

    Baca Juga: Asam Folat: Nutrisi Penting bagi Ibu Hamil dan Program Hamil


    Gejala Dislipidemia

    Dislipidemia sering kali disebut sebagai “silent killer” karena tidak memiliki gejala yang jelas pada tahap awal. Banyak kasus baru terdeteksi ketika pasien menjalani pemeriksaan rutin atau mengalami komplikasi serius seperti serangan jantung atau stroke.

    Pada beberapa kasus yang lebih parah, gejala berikut dapat muncul:

    • Timbulnya xanthelasma (plak kekuningan pada kelopak mata) atau xanthoma (penumpukan lemak di bawah kulit).
    • Nyeri dada (angina) akibat aliran darah ke jantung yang terganggu.
    • Kelelahan berlebihan dan sesak napas selama aktivitas fisik.

    Cara Mendiagnosis Dislipidemia

    Pemeriksaan laboratorium adalah metode utama untuk mendiagnosis dislipidemia. Berikut adalah tes yang umumnya dilakukan:

    1. Profil Lipid
      Tes ini mengukur kadar kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida dalam darah.
    2. Puasa Sebelum Pemeriksaan
      Untuk pengukuran trigliserida, pasien biasanya diminta berpuasa selama 10-12 jam agar hasil lebih akurat. Namun, pengukuran kolesterol total dan HDL tidak memerlukan puasa.

    Pencegahan dan Penanganan Dislipidemia

    Penanganan dislipidemia melibatkan perubahan gaya hidup dan, jika diperlukan, penggunaan obat-obatan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan:

    1. Perubahan Pola Makan

    Mengatur pola makan adalah langkah pertama untuk mengontrol kadar lipid darah. Beberapa tips diet sehat meliputi:

    • Mengurangi Asupan Lemak Jenuh
      Lemak jenuh ditemukan pada daging berlemak, produk susu tinggi lemak, margarin keras, dan makanan olahan. Batasinya hingga kurang dari 10% total asupan kalori harian.
    • Meningkatkan Konsumsi Lemak Tak Jenuh
      Ganti lemak jenuh dengan minyak sehat seperti minyak zaitun, minyak kanola, atau minyak biji bunga matahari yang kaya akan lemak tak jenuh.
    • Mengurangi Asupan Gula dan Karbohidrat Sederhana
      Gula tambahan dalam makanan dapat meningkatkan kadar trigliserida. Pilih karbohidrat kompleks seperti biji-bijian utuh, buah-buahan, dan sayuran.
    • Meningkatkan Konsumsi Serat
      Serat larut dalam oatmeal, kacang-kacangan, dan buah dapat membantu menurunkan LDL.

    Baca Juga: Awas! 10 Makanan Ini Wajib Dihindari Saat Diet

    2. Olahraga Secara Teratur

    Olahraga tidak hanya membantu menurunkan LDL dan trigliserida, tetapi juga meningkatkan HDL. Aktivitas seperti, Jogging, jalan cepat, berenang, atau bersepeda selama 30 menit minimal 3-5 kali seminggu sangat dianjurkan.

    3. Menghindari Kebiasaan Merokok dan Alkohol

    Berhenti merokok dapat meningkatkan kadar HDL dan mengurangi risiko penyakit jantung. Batasi konsumsi alkohol, terutama jika Anda memiliki kadar trigliserida yang tinggi.

    4. Menjaga Berat Badan Ideal

    Penurunan berat badan sebanyak 5-10% dapat membantu menurunkan kadar LDL, trigliserida, dan meningkatkan HDL.

    5. Penggunaan Obat-obatan (Jika Diperlukan)

    Dalam kasus di mana perubahan gaya hidup tidak cukup efektif, dokter dapat meresepkan obat, seperti:

    • Statin untuk menurunkan kadar LDL.
    • Fibrat untuk menurunkan trigliserida.
    • Niacin untuk meningkatkan HDL.
    • Inhibitor PCSK9 pada pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi.

    Mengapa Penanganan Dislipidemia Penting?

    Mengelola dislipidemia sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke. Penelitian menunjukkan bahwa menurunkan LDL sebesar 1 mmol/L dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular hingga 20-25%.


    Kesimpulan

    Dislipidemia adalah gangguan lipid darah yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular jika tidak ditangani dengan baik. Dengan menerapkan pola makan sehat, olahraga teratur, serta menjaga gaya hidup aktif, kadar lipid darah dapat dikontrol tanpa perlu menggunakan obat-obatan dalam banyak kasus. Namun, bagi individu dengan risiko tinggi atau kadar lipid yang sangat abnormal, konsultasi dengan dokter dan penggunaan obat mungkin diperlukan.

    Kode ICD-10 memberikan panduan untuk klasifikasi dislipidemia yang mempermudah diagnosis dan pengelolaan. Pemeriksaan rutin dan perubahan gaya hidup tetap menjadi langkah pencegahan terbaik.

  • Virus Mpox: Gejala , Penularan dan Pencegahan Cacar Monyet

    Mpox Virus atau Penyakit cacar monyet, yang dikenal secara internasional sebagai monkeypox, kembali menjadi perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan mengenai kasus monkeypox dari negara-negara non-endemis. Penyakit ini telah menyebar ke 12 negara non-endemis di tiga wilayah WHO, yaitu Eropa, Amerika, dan Western Pacific. Hal ini mengundang kekhawatiran di kalangan para pengambil kebijakan kesehatan global dan juga memunculkan pertanyaan dari masyarakat umum. Apa sebenarnya penyakit cacar monyet ini?

    Penyakit Monkeypox

    Monkeypox adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus Mpox, yang termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus ini juga mencakup virus penyebab cacar, virus vaccinia yang digunakan dalam vaksin cacar, dan virus cacar sapi.

    Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1958 saat terjadi wabah yang menyerang koloni monyet penelitian, sehingga diberi nama cacar monyet atau monkeypox. Kasus pertama pada manusia tercatat pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo, dan sejak itu, penyakit ini telah menjangkiti orang-orang di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat lainnya, seperti Kamerun, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, dan lainnya.

    Cara Penularan Virus Mpox

    Mpox virus dapat menular melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, orang yang terinfeksi, atau bahan yang terkontaminasi virus. Penularan juga dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, saat menangani hewan buruan, atau melalui produk yang berasal dari hewan yang terinfeksi. Selain itu, virus dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada penderita monkeypox.

    Meskipun memiliki nama cacar monyet, monyet bukanlah reservoir utama virus ini, dan masih banyak yang perlu diteliti mengenai sejarah alamiah virus ini.

    Gejala dan Tanda Monkeypox

    Virus Mpox: Gejala , Penularan dan Pencegahan Cacar Monyet
    Virus Mpox

    Pada manusia, gejala monkeypox mirip dengan cacar air, namun lebih ringan. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Salah satu perbedaan utama adalah pembengkakan kelenjar getah bening yang terjadi pada monkeypox, yang tidak terjadi pada cacar air. Masa inkubasi biasanya berkisar antara 6 hingga 13 hari, tetapi dapat lebih lama.

    Beberapa gejala dan tanda monkeypox meliputi sakit kepala, demam akut, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri otot, sakit punggung, kelemahan tubuh, dan lesi cacar pada tubuh. Ruam biasanya muncul 1-3 hari setelah gejala awal dan dapat menyebar dari wajah ke bagian tubuh lainnya. Penyakit ini berlangsung selama 2-4 minggu dan dapat berakibat fatal pada beberapa kasus.

    Pencegahan Virus Mpox

    Untuk mencegah infeksi monkeypox, beberapa tindakan dapat diambil:

    1. Hindari kontak dengan hewan yang berpotensi menjadi reservoir Mpox virus.
    2. Jauhi bahan yang pernah bersentuhan dengan hewan yang sakit.
    3. Pisahkan pasien terinfeksi dari individu lain yang berisiko.
    4. Lakukan cuci tangan secara cermat setelah kontak dengan hewan atau orang terinfeksi.
    5. Gunakan alat pelindung diri saat merawat pasien terinfeksi.
    6. Pastikan memasak daging dengan benar dan matang.

    Penting untuk tetap waspada dan mengenali gejalanya. Jika Anda atau seseorang mengalami gejala seperti yang telah disebutkan, segera berkonsultasi dengan fasilitas kesehatan untuk penanganan yang tepat.

    Kasus cacar monyet/Monkey Pox telah terkonfirmasi masuk ke Indonesia. Kabar terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa telah ada 27 kasus monkeypox yang terkonfirmasi, dengan mayoritas (21 kasus) terjadi di DKI Jakarta, sementara sisanya tersebar di Bandung, Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang.

  • Apa itu Penyakit Glaukoma, Apa saja Faktor Resikonya dan Penyebabnya ?

    Penyakit Glaukoma merupakan salah satu jenis penyakit mata yang dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf optik sehingga fungsi mata perlahan-lahan akan menghilang atau tidak dapat melihat secara total. Jenis glaukoma yang paling sering dialami oleh beberapa orang yaitu :

    Glaukoma sudut terbuka

    Jenis Glaukoma ini ini umumnya akan berkembang secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama dan penderita tidak akan merasakan sakit hingga pada akhirnya fungsi penglihatan akan menghilang. jenis glaukoma ini jika tidak segera di obati akan mengakibatkan kebutaan secara permanen.

    Glaukoma sudut tertutup

    Jenis glaukoma ini sangat jarang terjadi biasanya gejala awal bisa seperti mata terasa perih, merasakan penglihatan menjadi kabur, dan ciri fisik lainnya yaitu pupil mata menjadi besar, sering merasakan mual. sifat dari penyakit glaukoma sudut tertutup ini mengakibatkan kebutaan secara permanen.

    Beberapa faktor penyebab yang mengakibatkan seseorang terserang penyakit glaukoma adalah :

    1. Adanya peningkatan tekanan di area mata.
    2. Riwayat keluarga yang pernah mengalami glaukoma.
    3. Memiliki penyakit darah tinggi.

    Khusus untuk tekanan di area mata yang disebabkan oleh tekanan darah yang tinggi, nilainya yaitu lebih dari 21 mmHg atau 2.8 kPa. Namun, pada beberapa orang yang memiliki tekanan mata tinggi selama bertahun-tahun tidak mengalami penyakit glaukoma. tetapi sebaliknya, kerusakan saraf optik juga dapat terjadi pada orang yang memiliki tekanan normal, yang sering disebut juga dengan glaukoma tegangan normal.

    Mekanisme glaukoma sudut terbuka diyakini keluarnya aqueous humor (merupakan cairan yang terdapat pada ruang mata diantara lensa Mata dan Kornea) secara perlahan -lahan melalui trabecular meshwork (Trabecular meshwork yaitu saluran saringan yang mengelilingi tepi luar dari iris mata dalam sudut ruang anterior, dibentuk di mana sisipan iris ke dalam tubuh ciliary) sementara di glaukoma sudut tertutup iris memblokir meshwork trabecular. diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah anda benar-benar terkena glaukoma jenis ini.

    Jika dapat ditangani sejak awal maka penyakit glaukoma mungkin masih bisa dihentikan atau diperlambat perkembangannya, dengan beberapa jenis pengobatan antara lain :

    • Obat-obatan
    • Perawatan laser
    • Pembedahan

    Tujuan dari pengobatan penyakit glaukoma ini adalah untuk mengurangi tekanan pada mata.  sejauh ini pengobatan melalui metode laser adalah yang paling efektif pada jenis glaukoma sudut terbuka dan sudut tertutup. tetapi jika penderita tidak memungkinkan untuk menggunakan pengobatan laser karena kondisi fisik maka bisa dilakukan dengan metode operasi glaukoma.

    Menurut data yang dihimpun badan kesehatan dunia, menunjukan jika penyakit glaukoma merupakan penyebab kebutaan terbesar kedua setelah penyakit katarak. penyakit glaukoma sendiri sering di sebut juga sebagai penyakit pencuri karena bisa menyebabkan kebutaan yang terjadi secara perlahan-lahan pada penderitanya.

  • Ruam dan Nyeri Di Kulit, Hati-Hati Herpes Zoster!

    Gatal di kulit adalah hal biasa yang pernah dirasakan semua manusia, namun apa jadinya jika gatal dibarengi rasa nyeri? Gatal di kulit yang juga terasa nyeri bisa jadi adalah penyakit Herpes Zoster. Herpes Zoster disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan ruam sekaligus nyeri di kulit. Jenis herpes ini bisa tumbuh di manapun di bagian kulit.

    Pada umumnya ruam Herpes Zoster akan membentuk garis luka yang berada di sisi kanan atau kiri tubuh. Penyakit ini sebenarnya dipicu akibat adanya virus yang dapat menyebabkan cacar air, Varicella zoster. Seseorang yang telah sembuh dari cacar air, virus selanjutkan akan berada pada fase non-aktif dan bersembunyi di jaringan saraf dekat sumsum tulang belakang dan otak. Sekali-kali virus ini dapat aktif kembali yang kemudian dikenal dengan nama Herpes Zoster.

    Perlu dikenali tanda-tanda munculnya Herpes Zoster sebelum mengobati. Gejala umum yang dialami penderita adalah berupa nyeri dan sensasi seperti terbakar, matai rasa atau kesemutan, sensitif jika disentuh, ruam merah berisi cairan yang akan pecah dalam 7 hingga 10 hari, serta rasa gatal. Selain tanda-tanda fisik, biasanya penderita juga merasakan demam, sakit kepala, sensitif dengan cahaya, dan tubuh lemas.

    Herpes Zoster

    Mengenai penularannya, penyakit ini bisa ditularkan seseorang yang terkena virus Varicella zoster. Penyakit akan mudah menular dengan cepat kepada orang yang mempunyai imunitas rendah terhadap cacar air. Penularan biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan luka terbuka pada ruam Herpes Zoster. Jika tertular, orang tersebut bukan terkena Herpes Zoster, melainkan cacar air.

    Herpes Zoster bisa dicegah dengan beberapa langkah seperti vaksin cacar air dan vaksin herpes itu sendiri. Vaksin varicella merupakan vaksin rutin yang dapat mencegah cacar air.  Tidak hanya anak-anak, orang dewasa yang belum pernah mengalami cacar air juga menggunakan vaksin ini, namun vaksin ini tidak bisa menjamin penuh tidak terserang cacar air. vaksin hanya berfungsi untuk memperkecil kemungkinan terjadinya komplikasi yang disebabkan oleh cacar air.

    Sementara vaksin Zostavax dab Shingrix merupakan vaksin untuk herpes. Sekali vaksin, diprediksi akan memberikan perlindungan tubuh dari Herpes Zoster selama lima tahun. Zostavax dapat diberikan kepada orang di bawah 60 tahun. Sedangkan Shingrix dapat diberikan kepada orang dewasa di atas 50 tahun dengan perlindungan lebih dari lima tahun.

    Berbicara tentang obat, Herpes Zoster tidak mempunyai obat khusus. Pengobatan hanya bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi resiko terjadinya komplikasi. Obat yang biasa digunakan adalah obat antiviral dan obat pereda nyeri. Disarankan mengunjungi dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan obat yang tepat.

  • Cara Mengenali Tanda-Tanda Gagal Ginjal

    Gagal ginjal merupakan penyakit yang tergolong kronis. Keadaan kronis ginjal sangat berbahaya karena fungsi ginjal kian menurun dari waktu ke waktu. Ginjal yang sejatinya mempunyai fungsi menyaring racun metabolisme tubuh dan dikeluarkan dalam bentuk urine akan terganggu kinerjanya jika sudah rusak atau yang lebih dikenal dengan sebutan gagal ginjal.

    Penyakit ginjal yang kronis akan menyebabkan berlebihnya cairan dalam tubuh, baik cairan limbah racun maupun elektrilit. Penyebab terjadinya gagal ginjal juga bermacam-macam, termasuk juga gaya hidup yang buruk. Terjangkit gagal ginjal bisa menyebabkan penyakit serius lainnya seperti jantung dan stroke atau yang kemudian disebut sebagai komplikasi penyakit.

    Maka dari itu sebelum terlambat, kenal tanda-tanda gagal ginjal sedini mungkin untuk segera mengobati sebelum parah. Pengobatan dini akan memperlambat pertumbuhan penyakit atau mengurangi terjadinya risiko komplikasi seperti penyakit stroke dan jantung yang menjadi pembunuh nomor satu di dunia.

    Terlebih dahulu kenalilah fungsi ginjal dengan baik. Ginjal menyaring darah dan jumlah protein dalam urine. Peningkatan protein dalam urine akan menyebabkan peningkatan risiko penyakit gagal ginjal. Filtrasi Glomerulus (eGFR) merupakan pemeriksa darah yang hanya dimiliki oleh ginjal, ukuran normal eGFR adalah 90ml/menit/1,73 m2 atau lebih. Jika eGFR tidak menyaring dengan normal maka akan terjadi gangguan fungsi ginjal.

    Mengukur zat kimia dengan pemeriksaan pada darah disebut Kreatinin dengan metode Pemeriksaan eGFR. Kreatinin adalah hasil dari pemecahan otot. Umumnya ginjal akan membersihkan darah dari kreatinin. Jika ginjal tidak bekerja dengan baik dan glomerulus tidak menyaring darah sebanyak normal maka tingkat kreatinin dalam darah akan meningkat.

    Gagal ginjal ringan hingga menjadi kronis ada beberapa tahapan. Umumnya dari stadium 1 hingga stadium 3 belum menunjukkan tanda-tanda yang signifikan pada tubuh. Gejala biasanya diketahui secara kasat mata saat gagal ginjal mulai menuju kronis, seperti merasa lelah, kurang memiliki energi, dan badan terasa tidak nyaman. Ginjal yang semakin sakit akan menyebabkan tanda-tanda lainnya seperti sulit berpikir, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, kulit gatal dan kering, kram otot, bengkak pada pergelangan kaki karena kelebihan cairan, mata bengkak, buang air kecil lebih sering daripada biasanya, kuli pucat, dan anemia.

    Jika sudah di fase stadium 4 atau 5, ini akan menyebabkan terjadinya anemia, ketidakseimbangan kalsium, fosfat, dan zat kimia lainnya di dalam darah. Berkurangnya zat penting dalam darah memungkinkan untuk terjadinya pengeroposan tulang karena menurunnya kadar fosfat.

    Tahapan Gagal Ginjal

    Tahapan Gagal Ginjal

    Berikut adalah tahapan gagal ginjal:

    Stadium 1

    eGFR menunjukkan fungsi ginjal normal namun telah diketahui memiliki beberapa kerusakan atau penyakit ginjal seperti terdapat protein atau darah dalam urin, kelainan ginjal, radang ginjal, dll. Nilai eGFR lebih dari 90ml/menit/1,73 m2.

    Stadium 2

    Terjadinya penurunan fungsi ginjal dan sudah diketahui memiliki beberapa kerusakan ginjal atau penyakit. Nilai eGFR adalah 60-89 tanpa terjadi kerusakan ginjal atau penyakit yang berhubungan dengan gagal ginjal kronis.

    Stadium 3

    Terjadi penurunan fungsi ginjal dengan atau tanpa penyakit ginjal. Misalnya, pada orang lanjut usia dengan ginjal tua mengalami penurunan fungsi ginjal tanpa penyakit ginjal yang diketahui. Nilai eGFR pada stadium ini adalah 45-59ml/menit/1,73 m2(3A) dan 30-44ml/menit/1,73 m2(3B).

    Stadium 4

    Terjadi penurunan fungsi ginjal secara parah dengan atau tanpa penyakit ginjal. Nilai eGFR pada stadium ini adalah 15-29ml/menit/1,73 m2.

    Stadium 5

    Terjadi keparahan penurunan fungsi ginjal yang umumnya disebut dengan gagal ginjal. Nilai eGFR pada stadium ini kurang dari 15ml/menit/1,73 m2

    Penyebab gagal ginjal bisa dipicu oleh penyakit diabetes tipe 1 dan 2 terlebih dahulu, hipertensi, radang pada bagian ginjal, gangguan saluran kemih, pembesaran prostat, beberapa jenis kanker, ataupun infeksi ginjal akibat kembalinya urine ke dalam ginjal. Adapun pola hidup yang tidak sehat seperti merokok dan obesitas juga akan meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal.

    Untuk mencegah terjadinya gagal ginjal sejak dini, pintar-pintarlah untuk membuat tubuh nyaman dengan pola hidup sehat. Konsumsilah obat sesuai dengan yang dianjurkan dokter atau apoteker. Pengkonsumsian obat yang tidak dengan aturan akan menyebabkan kerusakan ginjal. Kemudian, mengontrol berat badan juga penting untuk menghindari penyakit gagal ginjal. Konsultasikan ke dokter terlebih dahulu untuk mendapatkan pola diet sehat.

    Untuk yang merokok, ingatlah kesehatan mahal harganya dan mulai berhentilah merokok. Selain merugikan untuk diri sendiri, merokok juga merugikan orang lain karena asapnya yang mengandung banyak racun. Yang terakhir dengan melakukan cek tubuh secara rutin dan berkonsultasi ke dokter jika ada masalah dengan organ dalam termasuk ginjal.