Tag: Jokowi

  • Retret Kepala Daerah Dimulai: Megawati Larang PDIP Ikut, Jokowi Beri Tanggapan

    Acara retret kepala daerah resmi dimulai hari ini di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, dan dijadwalkan berlangsung hingga 28 Februari 2025. Retreat ini bertujuan untuk menyamakan visi antara pemerintah pusat dan daerah pasca-pelantikan 961 kepala daerah terpilih pada 20 Februari lalu. Namun, agenda ini memicu kontroversi setelah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, mengeluarkan instruksi agar kepala daerah PDIP ikut retreat ditunda kehadirannya, yang kemudian mendapat respons dari Presiden ke-7 RI, Jokowi.

    Apa Itu Retreat Kepala Daerah?

    Retreat kepala daerah adalah kegiatan orientasi yang diadakan pemerintah untuk membekali para kepala daerah terpilih dengan materi dari puluhan menteri, Lemhannas, serta arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Menurut Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, acara ini menelan anggaran Rp13 miliar dan diikuti oleh 456 dari total 509 kepala daerah terpilih yang hadir pada hari pertama. Sebanyak 53 kepala daerah absen, dengan 47 di antaranya tanpa alasan jelas.

    Retret ini bukan sekadar formalitas. Jokowi menegaskan bahwa acara ini merupakan bagian dari urusan pemerintahan, bukan agenda partisan. “Ini urusan pemerintahan, yang diundang kepala daerah, yang mengundang Presiden. Mestinya hadir, karena mereka dipilih oleh rakyat untuk kepentingan negara,” ujar Jokowi saat ditemui di Solo, Jumat (21/2/2025).

    Instruksi Megawati: Kepala Daerah PDIP Tunda Ikut Retreat

    Keputusan Megawati untuk melarang kepala daerah PDIP menghadiri retret dipicu oleh penahanan Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, oleh KPK pada 20 Februari 2025, terkait kasus dugaan suap Harun Masiku. Dalam surat bernomor 7294/IN/DPP/II/2025 yang diterbitkan sehari sebelumnya, Megawati meminta seluruh kepala daerah dan wakil kepala daerah PDIP menunda kehadiran di Magelang hingga ada arahan lebih lanjut.

    Salah satu yang patuh pada instruksi ini adalah Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia memilih menunda keberangkatan ke Magelang dan menggelar rapat terbatas di Semarang sembari menunggu perintah partai. “Kami menunda kehadiran sesuai instruksi Ketum. Hari ini saya fokus memahami kondisi kota,” kata Agustina kepada media, Jumat siang. Ia juga menghadiri peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Alun-Alun Semarang sebagai bukti komitmennya pada tugas lokal.

    Namun, tidak semua kader PDIP mematuhi. Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, tetap mengikuti retret meski baru mengetahui larangan Megawati saat dalam perjalanan. “Pak Hasbi sudah di Magelang. Kalau balik lagi, bagaimana pertanggungjawabannya kepada masyarakat?” ujar juru bicaranya, Agus Wisas.

    Tanggapan Jokowi dan PDIP

    Tanggapan Jokowi dan PDIP

    Instruksi Megawati menuai beragam respons. Jokowi, sebagai mantan kader PDIP, menegaskan bahwa retret adalah kewajiban kepala daerah demi rakyat, bukan urusan partai. Sementara itu, Ketua DPP PDIP Said Abdullah membela keputusan Megawati sebagai urusan internal. “Ini soal partai, bukan urusan orang luar,” tegasnya.

    Di sisi lain, Wakil Mendagri Bima Arya memilih bersikap netral sambil menunggu perkembangan. “Kami tunggu sampai pukul 15.00 WIB untuk tahu siapa yang hadir dan alasannya apa,” katanya dalam konferensi pers di Magelang.

    Mengapa Retret Kepala Daerah Penting?

    Retreat ini dirancang untuk memastikan kepala daerah memahami alokasi dana APBN 2025 senilai Rp1.300 triliun yang akan disalurkan ke daerah dari total Rp3.600 triliun. Dengan absennya puluhan kepala daerah, khususnya dari PDIP, muncul kekhawatiran akan terganggunya sinkronisasi kebijakan pusat-daerah.

    Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Prabowo: Tegas Berantas Korupsi, Siap Singkirkan Pejabat Ndablek

    Meski demikian, beberapa kepala daerah PDIP yang sudah terlanjur tiba di Magelang memilih “standby” sambil menanti arahan partai. Situasi ini mencerminkan ketegangan antara loyalitas partai dan tanggung jawab kenegaraan.

    Retret kepala daerah di Magelang menjadi sorotan utama setelah instruksi Megawati mengguncang agenda pemerintah. Dengan Jokowi menekankan pentingnya kehadiran demi rakyat dan Agustina Wilujeng Pramestuti menunjukkan ketaatan pada partai, dinamika ini menambah kompleksitas hubungan antara PDIP dan pemerintahan saat ini. Akankah kepala daerah PDIP akhirnya bergabung, atau tetap menunda? Perkembangan selanjutnya patut dinantikan.

  • PDIP Resmi Pecat Jokowi: Kronologi dan Dampaknya

    Dalam langkah mengejutkan, PDI Perjuangan (PDIP) resmi memecat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari keanggotaan partai. Keputusan ini diumumkan oleh Komarudin Watubun, Ketua Bidang Kehormatan PDIP, sebagai bagian dari konsolidasi internal partai. Pemecatan ini tidak hanya menyasar Jokowi, tetapi juga dua figur terdekatnya, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution, yang masing-masing merupakan Wali Kota Solo dan Wali Kota Medan.

    Langkah tegas PDIP diduga terkait dinamika politik yang terjadi di luar struktur partai, terutama menjelang Pemilu 2024. Isu ini semakin hangat ketika Gibran memutuskan bergabung dengan Partai Gerindra untuk mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai presiden. Meski demikian, PDIP belum merilis pernyataan resmi yang menjelaskan alasan terperinci di balik keputusan ini.

    Keputusan pemecatan ini dianggap sebagai pergeseran besar dalam hubungan antara Jokowi dan PDIP, yang selama bertahun-tahun menjadi basis utama dukungan politiknya. Dampak langkah ini diprediksi meluas, baik terhadap hubungan koalisi partai maupun persepsi publik.

    Apa Maknanya Bagi Politik Indonesia?
    Pemecatan Jokowi dari PDIP memicu berbagai spekulasi tentang arah politiknya setelah masa jabatan presiden berakhir. Pengamat politik menilai, keputusan ini berpotensi menciptakan poros politik baru, terutama dengan keterlibatan Gibran di partai lain.

    Dengan dinamika ini, perhatian publik kini tertuju pada strategi PDIP untuk mempertahankan kekuatannya di tengah tantangan politik yang terus berkembang.

  • Demo Sempat Ricuh! Inilah 12 Tuntutan BEM SI untuk Jokowi di Akhir Masa Kepemimpinannya

    Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Senin (22/7/2024).

    Dalam aksi demo tersebut BEM SI menyikapi sejumlah kebijakan pemerintah selama hampir 10 tahun Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin Indonesia.

    Sekitar lebih dari 1.200 personil aparat kepolisian pun diturunkan untuk mengamankan aksi demo BEM SI yang merupakan gabungan dari personel Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Pusat.

    “Untuk pengamanan aksi elemen masyarakat di bundaran Patung Kuda Monas dan sekitarnya, kami melibatkan sejumlah 1.231 personel gabungan,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Susatyo Purnomo Condro dalam keterangannya, Senin (22/7/2024).

    Demonstrasi berlangsung hingga Senin malam dan sempat terjadi bentrok antara massa demonstran dan aparat. Hal ini bermula ketika sejumlah massa mahasiswa berupaya menarik separator beton yang membatasi mereka sehingga tak bisa langsung mendekati Istana Kepresidenan dan polisi berupaya mencegahnya melalui imbauan agar massa membubarkan diri.

    Peringatan kedua pun dikeluarkan oleh aparat kepolisian, namun massa demonstran tersebut masih bertahan hingga membakar spanduk orasi milik mereka.

    Kemudian polisi menembakkan water cannon ke arah demonstran, namun tetap massa tersebut bertahan dan beberapa di antaranya sempat melempari botol plastik ke arah aparat.

    Lalu, apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh BEM SI?

    Koordinator pusat BEM SI, Herianto menyampaikan bahwa aksi demo tersebut merupakan bentuk upaya mengkritisi kebijakan-kebijakan pada 10 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi.

    “Jokowi sempat mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi nasional maupun internasional, akan tetapi penghargaan yang diraih oleh presiden keturunan Jawa ini tidak merefleksikan kepemimpinan Jokowi di akhir masa purnanya,” ucap Herianto dikutip dari tempo.co, Senin (22/7/2024).

    Oleh sebab itu, BEM SI bergerak melakukan tuntutan dari beberapa masalah selama 10 tahun masa kepemimpinan Jokowi. Ada 12 poin tuntutan sebagaimana disebutkan melalui unggahan di akun resmi Instagram milik BEM SI @bem_si:

    1. Menuntut Jokowi untuk tidak cawe-cawe di Pilkada Indonesia 2024
    2. Menolak kembalinya dwifungsi TNI POLRI demi demokrasi Indonesia
    3. Sahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan RUU Masyarakat Adat
    4. Tuntaskan kasus pelanggaran HAM berat dan tindak tegas pelaku represifitas kepolisian
    5. Tuntaskan konflik agraria dan wujudkan reforma agraria sejati
    6. Cabut PP Nomor 55 Tahun 2024 serta mengkaji ulang kebijakan hilirisasi nikel
    7. Menuntut pemerintah untuk mengatasi limbah industri dan memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam pembangunan proyek.
    8. Menuntut pemerintah untuk meningkatkan fasilitas, pelayanan, dan sistem kesehatan
    9. Cabut Undang-Undang Tapera dan revisi kembali pasal-pasal yang bermasalah
    10. Mewujudkan keadilan dan pemerataan pendidikan di Indonesia
    11. Wujudkan wacana pendidikan gratis di Indonesia
    12. Cabut dan revisi Permendikbud Nomor 2 Tahun 2024 untuk dikaji kembali substansi materialnya.