Huruf hijaiyah adalah dasar dari bahasa Arab dan bacaan Al-Qur’an. Bagi umat Islam, mempelajari huruf hijaiyah bukan hanya kebutuhan praktis untuk membaca kitab suci, tetapi juga jendela menuju pemahaman budaya dan bahasa Arab yang lebih luas. Artikel ini akan membahas secara komprehensif apa itu huruf hijaiyah, mengapa penting mempelajarinya, hingga tips untuk menguasainya dengan metode yang menyenangkan.
Pengertian Huruf Hijaiyah
Huruf hijaiyah adalah abjad dalam bahasa Arab yang terdiri dari 28 huruf utama. Huruf-huruf ini digunakan sebagai fondasi penulisan dalam bahasa Arab, termasuk dalam teks-teks Al-Qur’an. Dalam penulisan, huruf hijaiyah memiliki keunikan karena bentuknya bisa berubah tergantung pada posisinya dalam sebuah kata, yaitu di awal, tengah, atau akhir.
Sebagai contoh, huruf Ba (ب) akan terlihat berbeda jika ditulis di awal kata (بـ), di tengah kata (ـبـ), atau di akhir kata (ـب). Fleksibilitas bentuk ini adalah salah satu ciri khas dari huruf hijaiyah yang perlu dipahami oleh para pemula.
Daftar Huruf Hijaiyah dan Cara Membacanya
Berikut adalah daftar lengkap 30 huruf hijaiyah beserta nama dan cara membacanya:
No
Huruf
Nama Huruf
Cara Membaca
1
ا
Alif
A (tanpa harakat)
2
ب
Ba
B
3
ت
Ta
T
4
ث
Tsa
Ts
5
ج
Jim
J
6
ح
Ha
H lembut
7
خ
Kha
Kh
8
د
Dal
D
9
ذ
Dzal
Dz
10
ر
Ra
R
11
ز
Zai
Z
12
س
Sin
S
13
ش
Syin
Sy
14
ص
Shad
S tebal
15
ض
Dhad
D tebal
16
ط
Tha
T tebal
17
ظ
Zha
Z tebal
18
ع
‘Ain
A berat (pangkal tenggorokan)
19
غ
Ghain
Gh
20
ف
Fa
F
21
ق
Qaf
Q
22
ك
Kaf
K
23
ل
Lam
L
24
م
Mim
M
25
ن
Nun
N
26
هـ
Ha
H
27
و
Waw
W
28
ي
Ya
Y
29
ء
Hamzah
Stop suara (glottal stop)
30
لا
Lam Alif
Gabungan “La”
Catatan Tambahan:
Hamzah (ء): Hamzah adalah huruf tambahan yang sering digunakan untuk menandakan suara hentian atau stop. Biasanya hamzah muncul sebagai bagian dari Alif, tetapi juga bisa berdiri sendiri.
Lam Alif (لا): Lam Alif adalah kombinasi khusus dari huruf Lam (ل) dan Alif (ا) yang sering muncul dalam kata-kata Arab, seperti “لا إله إلا الله”.
Latihan membaca 30 huruf ini dengan berbagai harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun) sangat penting untuk menguasai pelafalan dan pemahaman bahasa Arab.
Ada beberapa alasan mengapa belajar huruf hijaiyah sangat penting, khususnya bagi umat Islam:
1. Membaca dan Memahami Al-Qur’an
Al-Qur’an ditulis sepenuhnya menggunakan huruf hijaiyah. Tanpa memahami huruf ini, seseorang tidak akan mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan benar.
2. Dasar Bahasa Arab
Huruf hijaiyah adalah fondasi untuk mempelajari bahasa Arab, salah satu bahasa dunia yang banyak digunakan. Bahasa ini juga kunci untuk memahami literatur klasik Islam dan budaya Arab.
3. Meningkatkan Keimanan
Mempelajari huruf hijaiyah dan menggunakannya untuk membaca Al-Qur’an bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga bentuk ibadah. Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an mengandung pahala.
4. Warisan Budaya dan Sejarah
Huruf hijaiyah adalah bagian integral dari sejarah dan budaya Arab yang kaya. Dengan mempelajari huruf ini, kita ikut melestarikan warisan peradaban yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Belajar huruf hijaiyah kini lebih mudah karena banyak alat bantu yang tersedia. Beberapa di antaranya:
1. Buku Panduan Hijaiyah
Buku-buku seperti “Iqro” sangat populer di kalangan pemula. Buku ini dirancang dengan tahapan bertingkat sehingga memudahkan pembelajar memahami huruf dan cara membacanya secara bertahap.
2. Aplikasi Interaktif
Aplikasi seperti “Belajar Hijaiyah” dan “Muslim Kids” menawarkan cara belajar yang interaktif. Aplikasi ini sering kali dilengkapi dengan audio pengucapan huruf, sehingga pengguna bisa mendengar dan meniru cara membaca yang benar.
3. Flashcard dan Poster
Flashcard bergambar huruf hijaiyah dengan warna-warna cerah dapat membantu anak-anak menghafal huruf dengan cepat. Poster hijaiyah juga dapat ditempel di rumah untuk membantu pengenalan huruf secara visual.
Harakat Huruf Hijaiyah
Setelah mengenal huruf, langkah selanjutnya adalah memahami harakat, yaitu tanda baca kecil yang menentukan bunyi vokal pada setiap huruf. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Fathah ( َ )
Tanda fathah membuat huruf berbunyi vokal “a”. Misalnya, بَ dibaca “ba”.
2. Dhammah ( ُ )
Dhammah memberikan bunyi vokal “u”. Contoh: بُ dibaca “bu”.
3. Kasrah ( ِ )
Kasrah memberikan bunyi vokal “i”. Contoh: بِ dibaca “bi”.
4. Sukun ( ْ )
Sukun menunjukkan konsonan mati tanpa vokal. Misalnya, بْ hanya berbunyi “b”.
5. Fathahtain ( ً )
Fathahtain adalah tanda fathah ganda yang berbunyi “an”.
6. Dhammahtain ( ٌ )
Dhammahtain memberikan bunyi “un”.
7. Kasrahtain ( ٍ )
Kasrahtain memberikan bunyi “in”.
8. Tasydid ( ّ )
Tasydid menunjukkan huruf yang diulang atau ditekan. Misalnya, بّ dibaca “bba”.
9. Bacaan Panjang (Mad)
Huruf panjang terjadi ketika sebuah huruf diikuti oleh alif (ا), ya (ي), atau waw (و), menghasilkan bacaan seperti “aa”, “ii”, atau “uu”.
Penulisan Huruf Hijaiyah yang Disambung dan Tidak Disambung
Dalam penulisan bahasa Arab, huruf hijaiyah memiliki karakteristik unik dalam penyambungan.
Huruf yang Dapat Disambung
Sebagian besar huruf dapat disambung baik dengan huruf sebelum maupun sesudahnya, seperti ب (Ba), ت (Ta), dan ن (Nun).
Huruf yang Tidak Dapat Disambung
Beberapa huruf hanya bisa disambung dengan huruf sebelumnya, seperti:
ا (Alif)
د (Dal)
ر (Ra)
ز (Zai)
و (Waw)
Contohnya, pada kata باب (bab), huruf Ba dapat disambung, tetapi Alif tetap berdiri sendiri.
Tips Mengajarkan Huruf Hijaiyah
Mengajarkan huruf hijaiyah memerlukan pendekatan yang kreatif, terutama untuk anak-anak. Berikut beberapa tips yang efektif:
Gunakan Lagu atau Nada Lagu anak-anak dengan lirik huruf hijaiyah membantu anak mengenal huruf sambil bersenang-senang.
Permainan Edukasi Permainan seperti mencocokkan huruf dengan gambar atau bermain puzzle huruf hijaiyah dapat meningkatkan minat belajar.
Latihan Konsisten Belajar sedikit demi sedikit setiap hari lebih efektif daripada belajar banyak sekaligus.
Berikan Penghargaan Setiap kali anak berhasil menguasai huruf baru, berikan pujian atau hadiah kecil untuk memotivasi mereka.
Pentingnya Belajar Huruf Hijaiyah
Belajar huruf hijaiyah bukan hanya tentang keterampilan teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan budaya yang mendalam. Huruf ini adalah medium untuk berkomunikasi dengan wahyu Ilahi, yang menjadikannya sangat istimewa bagi umat Islam.
Peran Huruf Hijaiyah dalam Tulisan Arab
Huruf hijaiyah adalah inti dari sistem penulisan bahasa Arab. Selain digunakan dalam Al-Qur’an, huruf ini juga digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh lebih dari 300 juta penutur bahasa Arab di seluruh dunia. Selain itu, banyak bahasa lain, seperti Urdu dan Persia, juga menggunakan modifikasi dari huruf hijaiyah, yang menunjukkan pengaruh globalnya.
Dengan mengikuti panduan ini, belajar huruf hijaiyah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat. Mulailah dengan langkah kecil, gunakan alat bantu yang tersedia, dan jangan lupa untuk terus berlatih. Sebagai pintu menuju Al-Qur’an dan bahasa Arab, huruf hijaiyah adalah kunci yang membuka dunia baru bagi siapa saja yang mempelajarinya.
Jazakumullah khairan merupakan ungkapan doa singkat dalam bahasa Arab yang akrab di telinga umat Muslim. Ucapan jazakumullah khairan katsiran merupakan bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada seseorang yang telah berbuat baik kepada kita.
Apa yang dimaksud dengan jazakumullah khairan katsiran dan apa jawabannya? Untuk lebih memahaminya, mari simak penjelasan di bawah ini!
Arti Jazakumullah Khairan Katsiran
Arti dari jazakumullah khairan katsiran adalah harapan agar Allah membalas dengan kebaikan yang melimpah. Ucapan ini digunakan dalam konteks terima kasih dan rasa syukur kepada Allah SWT. Mirip dengan kata “terima kasih” dalam bahasa Arab, yaitu “syukron”.
Tulisan Jazakumullah Khairan Katsiran Arab dan latinnya:
جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا
Jazakumullah khairan katsiran
Jazakallah adalah kata Arab yang digunakan oleh umat Islam untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih melalui doa.
Ucapan jazakumullah khairan katsiran adalah salah satu bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, lebih baik bagi seorang Muslim untuk menggunakan ucapan ini, karena dengan memohon kepada Allah SWT agar melimpahkan berkah dan kebaikan, daripada hanya mengucapkan terima kasih biasa.
Keutamaan dari Ucapan Jazakumullah Khairan Katsiran
Ucapan jazakumullah khairan katsiran juga memiliki keutamaan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah mengajarkan umatnya untuk memberikan doa kepada orang yang berbuat baik kepada kita.
Dalam sebuah hadis, diceritakan oleh Usamah bin Zaid r.a., Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang berbuat baik padanya, dan dia berkata: ‘Jazakallah khairan’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka dia telah melakukan yang terbaik dalam pujian.” (HR. Tirmidzi: 2035).
Rasulullah juga pernah berkata, “Jika seseorang mencari perlindungan dengan nama Allah, berilah dia perlindungan. Jika ada yang meminta dalam nama Allah, berikanlah. Jika ada yang mengundangmu, terimalah. Dan jika ada orang yang berbuat baik kepadamu, balaslah dia. Namun jika kamu tidak mampu melakukannya, berdoalah untuknya sampai kamu merasa telah memberinya kompensasi.” (HR. Abu Dawud:1672).
Untuk menjawab ucapan jazakumullah khairan katsiran, jika Anda seorang perempuan, Anda dapat menggunakan ungkapan “wa iyyaki” (dan kebaikan juga untukmu). Sedangkan jika Anda seorang laki-laki, Anda dapat menggunakan ungkapan “wa iyyaka” (dan kebaikan juga untukmu).
Ungkapan “wa iyyaaka” berarti “dan kebaikan juga untukmu” jika ditujukan kepada laki-laki, sedangkan “wa iyyaki” berarti “dan kebaikan juga untukmu” jika ditujukan kepada perempuan. Untuk jawaban dalam bentuk jamak, ungkapannya adalah “wa iyyaakum” yang berarti “dan kebaikan juga untuk kalian” yang ditujukan kepada banyak orang.
Jazakallah khairan adalah sebuah doa, oleh karena itu, jawaban yang dapat digunakan adalah “amin” atau “Aamin ya Rab” yang berarti “ya Allah, kabulkanlah”.
Lebih formal lagi, Anda dapat menjawab jazakallah khairan dengan ungkapan “wa Antum fa Jazakumullahu khairan” yang berarti “dan kamu juga, semoga Allah membalas dengan kebaikan”.
Sebagai alternatif, ungkapan yang dapat digunakan dalam menjawab jazakallah khairan adalah “wa jazakallahu khairan” atau “wa jazakillahu khairan” yang berarti “dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan juga”. Jawablah dengan penuh doa, sebagaimana kita didoakan.
Perbedaan antara Jazakallahu Khairan dan Jazakillahu Khairan
Jazakallah khairan diucapkan kepada laki-laki (tunggal), sedangkan jazakillah khairan diucapkan kepada perempuan (tunggal).
Jazaa: Semoga menambah/memberi/membalas
ka: kamu (tunggal)
Allah
Khairan: kebaikan
Katsiran: banyak
Jadi, jazakallah artinya “semoga Allah akan menambah/memberi/membalasmu”. Kata Jazakallah atau Jazakumullah digunakan sebagai ungkapan terima kasih dan doa kepada seseorang atas kebaikannya.
Apa perbedaan antara jazakallah dan jazakumullah? Jazakumullah diucapkan kepada laki-laki (bentuk jamak) dan perempuan (bentuk jamak). Jazakumullah artinya “semoga Allah membalas kebaikan kalian”.
Untuk menggunakan lafal Jazakumullah dengan baik dalam kalimat, perhatikan bagaimana umat Muslim menggunakannya secara alami dalam percakapan sehari-hari.
Berikut adalah beberapa contoh penggunaan Jazakallah:
1. Aamiin ya Rab, mohon doanya ya supaya bisa cepat sembuh. Jazakillah khair! (diucapkan untuk perempuan)
2. Syukron jazakallah khairan: Terima kasih, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan (diucapkan untuk seorang laki-laki)
3. Jazakumullah khairan n katsiran karena sudah mendukung kami!
Ucapan Kebaikan Sehari-hari dalam Bahasa Arab
Jazakumullah khairan katsiran merupakan salah satu ucapan kebaikan sehari-hari dalam bahasa Arab. Selain itu, terdapat banyak ucapan kebaikan lain yang dapat digunakan.
Dikutip dari laman PPPPTK Bahasa Kemdikbud yang ditulis oleh Dedi Supriyanto, berikut adalah beberapa contoh ucapan kebaikan sehari-hari dalam bahasa Arab:
1. Bittaufiq wa annajah artinya “semoga kamu mendapat taufik dan kesuksesan”.
2. Barakallahu fiik artinya “semoga Allah memberi keberkahan padamu”.
3. Atamanna laka attaufik wa almazid min annajah fii hayatik al-mihniyyah wa asyakshiyah artinya “aku berharap kamu mendapat kesuksesan dalam karir dan kehidupanmu yang penuh tantangan dan kebahagiaan”.
4. Barakallahu fii umrik wa usratik wa hayatik wa amalik wa shihatik artinya “semoga Allah memberkahi umurmu, keluargamu, kehidupanmu, pekerjaanmu, dan kesehatanmu”.
5. Taqabbalallhu minkum sholihu al-a’mal artinya “semoga Allah menerima amal kebaikanmu”.
6. Zadakallahu nuuron wa ihsaanan wa sitran wa barakatan wa ridhan artinya “semoga Allah menambahkan cahaya, kebaikan, perlindungan, keberkahan, dan keridhoan”.
7. Ma’a an-najah artinya “semoga sukses”.
Dengan demikian, jazakumullah khairan katsiran artinya adalah semoga Allah memberikan banyak kebaikan untukmu. Sekarang, Anda sudah tahu kapan harus mengucapkan jazakallahu khairan, bukan?
Assalamualaikum (السلام عليكم) adalah salam dalam bahasa Arab yang digunakan oleh umat Islam untuk menyapa dan memberikan salam kepada sesama Muslim. Secara harfiah, salam ini dapat diterjemahkan sebagai “Semoga kedamaian menyertaimu” atau “Kedamaian sejahtera tercurah padamu”.
Arti dari salam “Assalamualaikum” mencerminkan keinginan dan doa untuk keselamatan, kedamaian, dan keberkahan bagi orang yang disalaminya. Ini adalah ungkapan kebaikan, persaudaraan, dan keakraban dalam Islam. Ketika seseorang mengucapkan “Assalamualaikum,” mereka berharap agar semua bentuk keburukan, konflik, dan kesulitan dihindari oleh orang yang mereka sapa.
Hukum mengucapkan salam “Assalamualaikum” dalam Islam adalah sunnah. Sunnah adalah tindakan atau perkataan yang dianjurkan dan dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai contoh yang baik bagi umat Islam. Ucapan salam ini adalah salah satu sunnah yang diajarkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dianjurkan agar umat Islam mengamalkannya.
Mengucapkan “Assalamualaikum” memiliki banyak keutamaan dalam agama Islam. Beberapa keutamaannya antara lain:
Mendapat Pahala: Mengucapkan salam “Assalamualaikum” kepada orang lain dianggap sebagai amal saleh yang akan mendatangkan pahala dari Allah SWT.
Membangun Persaudaraan: Salam ini memperkuat hubungan dan persaudaraan antara Muslim. Ia menciptakan rasa kebersamaan, penghargaan, dan saling menghormati di antara sesama umat Islam.
Mendapatkan Keberkahan: Mengucapkan salam ini dianggap sebagai permohonan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dengan saling menyapa dengan salam ini, umat Muslim diharapkan akan diberkahi dalam segala aspek kehidupan mereka.
Mengucapkan salam “Assalamualaikum” bisa dilakukan dalam berbagai situasi, termasuk saat bertemu langsung dengan seseorang, saat memasuki tempat umum atau tempat ibadah, saat memulai atau mengakhiri percakapan melalui pesan teks atau telepon, dan dalam situasi-situasi sosial lainnya.
Dalam Islam, ada juga salam balasan yang umumnya digunakan sebagai tanggapan terhadap salam “Assalamualaikum”. Salam balasan ini adalah “Waalaikumsalam” (وعليكم السلام), yang berarti “Dan semoga kedamaian juga tercurah padamu”. Hal ini menunjukkan saling menghormati dan saling membalas salam antara dua orang atau lebih.
Arti Assalamualaikum
Anjuran mengucapkan salam tertuang dalam Surat An-Nur ayat 27. Sebagaimana Allah berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.
Salam tersebut diucapkan dengan kalimat Assalamu’alaikum. Frasa lengkapnya adalah ʾas-salāmu ʿalaykum wa-raḥmatu -llāhi wa-barakātuhū (ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ). Salam ini juga termasuk dalam sunnah Nabi Muhammad SAW.
Tak hanya umat Islam, salam tersebut digunakan oleh kultur Kristen di Timur Tengah yang memiliki arti kedamaian dan kesejahteraan, bagi mereka yang mengucapkan dan menerima salam tersebut. Salam ini sendiri sama dengan salam shalom Aleichem dalam bahasa Ibrani.
Terdapat tiga jenis salam yang bisa diucapkan oleh seorang Muslim sebagai ungkapan sapa dan doa. Ketiganya dibahas Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar. Berikut penulisan Assalamualaikum dalam bahasa Arab dan Latin yang benar:
Salam Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
Penulisan latin: Assalamu’alaikum
Artinya: Semoga Keselamatan terlimpah untukmu.
Salam Kedua
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ
Penulisan latin: Assalamu’alaikum Warahmatullah
Artinya: Semoga Allah Melimpahkan Keselamatan dan Rahmat-Nya untukmu
Artinya: Semoga Allah Melimpahkan keselamatan, Rahmat dan Keberkahan untukmu.
Mengucapkan salam tidak hanya sebatas pada orang yang kenal saja, namun dianjurkan untuk diucapkan kepada orang yang tidak kita kenal juga. Hal tersebut termaktub dalam hadist dari Abdullah bin Amr, bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi Muhammas SAW:
“Amalan islam apa yang paling baik?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Memberi makan (kepada orang yang butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali. ” (HR. Bukhari).
Hukum Mengucapkan Salam
Penting untuk diketahui bahwa hukum mengucapkan salam dalam Islam adalah sunah dan menjawabnya adalah wajib. Hasan Al-Basri berkata “Mengawali mengucapkan salam sifatnya adalah sukarela, sedangkan membalasnya adalah kewajiban”.
Dalam menjawab salam, sebaiknya lebih lengkap dari pemberi salam, sebagaimana terdapat dalam Al-Quran:
“Apabila kamu diberi penghormatan/salam dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS.An-Nisa’: 86)
Adap Mengucapkan Assalamualaikum
Terdapat tiga hadist yang digunakan sebagai adap mengucapkan salam dalam Islam, yaitu:
1. Adab tentang siapa yang harusnya mengucapkan salam
Dari Abu Huraurah radhiyallahu’anhu, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Hendaklah yang kecil memberi salam pada yang lebih tua, hendaklah yang berjalan memberi salam pada yang sedang duduk, hendaklah yang sedikit memberi salam pada yang banyak.” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, Muslim).
2. Adab tentang bagaimana mengucapkan salam saat dalam satu kelompok/ rombongan
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Cukup jika berjamaah (berada dalam kelompok) jika lewat, maka salah seorang dari mereka mengucapkan salam. Cukup jika berjamaah (berada dalam kelompok) jika ada yang mengucapkan salam, maka salah seorang dari jamaah tersebut yang membalas salamnya.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).
3. Hadist Ketiga tentang adab salam terhadap Non-Muslim yang berbunyi:
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Janganlah memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian bertemu dengan mereka di jalan, maka persempitlah jalan mereka.” (HR. Muslim) (HR. Muslim).
Hadist lain yang menyinggung masalah adab salam terhadap Non-Muslim adalah:
“Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa Anas bin Malik berkata,
“Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as-saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari).
Berikut adalah tulisan arab, latin, beserta artinya doa ketika turun hujan Allahumma Shoyyiban Nafi’an.
Dalam hadits Imam Bukhari dijelaskan, doa Allahumma Shoyyiban Nafi’an adalah doa Nabi Muhammad saw ketika turun hujan.
Doa Allahumma Shoyyiban Nafi’an biasa dibaca oleh orang muslim sebagai tanda syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah swt berupa air yang bersih.
Selain bersih, Hujan yang turun ke bumi merupakan sebuah rahmat dari Allah Swt. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Quran Surat Asy-Syura ayat 28.
“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji”.
Kita dianjurkan untuk membaca doa ketika turun hujan karena salah satu waktu dimana doa dikabulkan.
Sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang Artinya, “Dua doa yang tidak akan ditolak, yaitu doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan”. (HR. Imam Hakim & Ath-Thabrani).
Kun Fayakun (bahasa Arab: كُنْ فَيَكُونُ) adalah sebuah ungkapan dan kalimat yang disebutkan di beberapa ayat Alquran. Namun secara spesifik dijabarkan pada surat Yasin ke 36, ayat 82.
Arti Kun Fayakun Pada Surat Yasin
“Kun fayakun” adalah sebuah frase dalam bahasa Arab yang berasal dari Al-Quran. Frase ini ditemukan dalam Surah Yasin, Surah ke-36, ayat 82, di mana Allah berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya jika Allah menghendaki sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”
Jadi, “Kun fayakun” secara harfiah berarti “Jadilah, maka terjadilah”. Ungkapan ini mencerminkan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu hanya dengan kehendak-Nya. Ketika Allah menginginkan sesuatu terjadi, Dia hanya mengatakan “Jadilah” dan itu terjadi tanpa kesulitan.
Sebagai doa, “Kun fayakun” menjadi ungkapan dari keyakinan dan harapan seseorang kepada Allah untuk memenuhi keinginan atau memperbaiki keadaan. Dalam konteks doa, “Kun fayakun” menggambarkan kepercayaan akan kekuasaan absolut Allah untuk mengubah dan menciptakan apa pun yang Dia kehendaki. Orang-orang menggunakan ungkapan ini dalam doa mereka sebagai penegasan keyakinan bahwa Allah memiliki kuasa untuk memenuhi permohonan mereka dan mengubah segala sesuatu.
Berikut ini adalah surat-surat lain dalam Al-Quran yang mengandung ayat-ayat yang berbicara tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan dengan firman-Nya:
Artinya: “Dia Pencipta langit dan bumi. Dan apabila Dia berkehendak untuk sesuatu, maka cukuplah Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”
Artinya: “Musa berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mendapatkan seorang anak, padahal tidak ada manusia yang menyentuhku?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Dia telah menentukan sesuatu, maka cukuplah Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.’”
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah itu seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”
Artinya: “Allah tidaklah mempunyai anak, Mahasuci Allah. Apabila Dia berkehendak untuk sesuatu, maka cukuplah Dia hanya mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, maka jadilah ia.”
Artinya: “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan sebenarnya. Dan (ingatlah) pada hari Dia berfirman, ‘Jadilah!’ maka jadilah. Lalu firman-Nya: ‘Kun fayakun’. Dan kepunyaan-Nya-lah kerajaan pada hari ditiupnya sangkakala. Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata; dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengenal.”
Surat Al Mulk adalah surah ke-67 dalam Al-Quran. Surah ini terdiri dari 30 ayat dan termasuk dalam golongan surah Makkiyah, yang artinya diturunkan di Mekah sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surat Al Mulk mengandung berbagai pesan dan pelajaran, termasuk tentang kekuasaan dan keagungan Allah, ciptaan-Nya, dan akhirat.
Salah satu tujuan utama Surat Al Mulk adalah untuk mengajak manusia untuk merenungkan tentang ciptaan Allah di alam semesta ini dan mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Surat Al Mulk juga mengingatkan tentang pentingnya bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya dan menjalankan perintah-perintah-Nya.
Surat Al Mulk sering dibaca oleh banyak umat Muslim karena terdapat hadits dari Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa surah Al Mulk memberikan perlindungan bagi pembacanya di alam kubur. Karena itu, banyak orang Islam membiasakan membaca Surat Al Mulk setiap hari sebagai bentuk ibadah dan perlindungan.
Berikut Surat Al Mulk Latin, Arab, beserta artinya:
Surat Al Mulk (QS.67)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillahirrahmanirrahim
تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ Tabārakal-lażī biyadihil-mulk(u), wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr(un). Artinya: Mahaberkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā(n), wa huwal-‘azīzul-gafūr(u). Artinya: yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ Allażī khalaqa sab‘a samāwātin ṭibāqā(n), mā tarā fī khalqir-raḥmāni min tafāwut(in), farji‘il-baṣara hal tarā min fuṭūr(in). Artinya: (Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيْرٌ Ṡummarji‘il-baṣara karrataini yanqalib ilaikal-baṣaru khāsi’aw wa huwa ḥasīr(un). Artinya: Kemudian, lihatlah sekali lagi (dan) sekali lagi (untuk mencari cela dalam ciptaan Allah), niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih (karena tidak menemukannya).
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ Wa laqad zayyannas-samā’ad-dun-yā bimaṣābīḥa wa ja‘alnāhā rujūmal lisy-syayāṭīni wa a‘tadnā lahum ‘ażābas-sa‘īr(i). Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
وَلِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ Wa lil-lażīna kafarū birabbihim ‘ażābu jahannam(a), wa bi’sal-maṣīr(u). Artinya: Orang-orang yang kufur kepada Tuhannya akan mendapat azab (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُۙ Iżā ulqū fīhā sami‘ū lahā syahīqaw wa hiya tafūr(u). Artinya: Apabila dilemparkan ke dalamnya (neraka), mereka pasti mendengar suaranya yang mengerikan saat ia membara.
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ Takādu tamayyazu minal-gaiẓ(i), kullamā ulqiya fīhā faujun sa’alahum khazanatuhā alam ya’tikum nażīr(un). Artinya: (Neraka itu) hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka, “Tidak pernahkah seorang pemberi peringatan datang kepadamu (di dunia)?”
قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ Qālū balā qad jā’anā nażīr(un), fa każżabnā wa qulnā mā nazzalallāhu min syai'(in), in antum illā fī ḍalālin kabīr(in). Artinya: Mereka menjawab, “Pernah! Sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(-nya) dan mengatakan, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun.’” (Para malaikat berkata,) “Kamu tidak lain hanyalah (berada) dalam kesesatan yang besar.”
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ Wa qālū lau kunnā nasma‘u au na‘qilu mā kunnā fī aṣḥābis-sa‘īr(i). Artinya: Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).”
فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ Fa‘tarafū biżambihim, fasuḥqal li’aṣḥābis-sa‘īr(i). Artinya: Mereka mengakui dosanya (saat penyesalan tidak lagi bermanfaat). Maka, jauhlah (dari rahmat Allah) bagi para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala) itu.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ Innal-lażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi lahum magfiratuw wa ajrun kabīr(un). Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan tanpa melihat-Nya akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ Wa asirrū qaulakum awijharū bih(ī), innahū ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i). Artinya: Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ ࣖ Alā ya‘lamu man khalaq(a), wa huwal-laṭīful-khabīr(u). Artinya: Apakah (pantas) Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia (juga) Mahahalus lagi Maha Mengetahui?
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ Huwal-lażī ja‘ala lakumul-arḍa żalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū mir rizqih(ī), wa ilaihin-nusyūr(u). Artinya: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَا هِيَ تَمُوْرُۙ A’amintum man fis-samā’i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa’iżā hiya tamūr(u). Artinya: Sudah merasa amankah kamu dari Zat yang di langit, yaitu (dari bencana) dibenamkannya bumi oleh-Nya bersama kamu ketika tiba-tiba ia terguncang?
اَمْ اَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يُّرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًاۗ فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ Am amintum man fis-samā’i ay yursila ‘alaikum ḥāṣibā(n), fa sata‘lamūna kaifa nażīr(i). Artinya: Atau, sudah merasa amankah kamu dari Zat yang di langit, yaitu (dari bencana) dikirimkannya badai batu oleh-Nya kepadamu? Kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.
وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ Wa laqad każżabal-lażīna min qablihim fakaifa kāna nakīr(i). Artinya: Sungguh, orang-orang sebelum mereka pun benar-benar telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, betapa hebatnya kemurkaan-Ku!
اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰۤفّٰتٍ وَّيَقْبِضْنَۘ مَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحْمٰنُۗ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍۢ بَصِيْرٌ Awalam yarau ilaṭ-ṭairi fauqahum ṣāffātiw wa yaqbiḍn(a), mā yumsikuhunna illar-raḥmān(u), innahū bikulli syai’im baṣīr(un). Artinya: Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.
اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ جُنْدٌ لَّكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِۗ اِنِ الْكٰفِرُوْنَ اِلَّا فِيْ غُرُوْرٍۚ Am man hāżal-lażī huwa jundul lakum yanṣurukum min dūnir-raḥmān(i), inil-kāfirūna illā fī gurūr(in). Artinya: Atau, siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat menolongmu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.
اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ يَرْزُقُكُمْ اِنْ اَمْسَكَ رِزْقَهٗ ۚ بَلْ لَّجُّوْا فِيْ عُتُوٍّ وَّنُفُوْرٍ Am man hāżal-lażī yarzuqukum in amsaka rizqah(ū), bal lajjū fī ‘utuwwiw wa nufūr(in). Artinya: Atau, siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Sebaliknya, mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).
اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖٓ اَهْدٰىٓ اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ Afamay yamsyī mukibban ‘alā wajhihī ahdā ammay yamsyī sawiyyan ‘alā ṣirāṭim mustaqīm(in). Artinya: Apakah orang yang berjalan dengan wajah tertelungkup itu lebih mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?
قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ Qul huwal-lażī ansya’akum wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abṣāra wal-af’idah(ta), qalīlam mā tasykurūn(a). Artinya: Katakanlah, “Dialah Zat yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur.”
قُلْ هُوَ الَّذِيْ ذَرَاَكُمْ فِى الْاَرْضِ وَاِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ Qul huwal-lażī żara’akum fil-arḍi wa ilaihi tuḥsyarūn(a). Artinya: Katakanlah, “Dialah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi dan kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a). Artinya: Mereka berkata, “Kapankah (datangnya) janji (azab) ini jika kamu orang-orang benar?”
قُلْ اِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ ۖوَاِنَّمَآ اَنَا۠ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ Qul innamal-‘ilmu ‘indallāh(i), wa innamā ana nażīrum mubīn(un). Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya ada pada Allah. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.”
فَلَمَّا رَاَوْهُ زُلْفَةً سِيْۤـَٔتْ وُجُوْهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقِيْلَ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تَدَّعُوْنَ Falammā ra’auhu zulfatan sī’at wujūhul-lażīna kafarū wa qīla hāżal-lażī kuntum bihī tadda‘ūn(a). Artinya: Ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dikatakan (kepada mereka), “Ini adalah (sesuatu) yang dahulu kamu selalu mengaku (bahwa kamu tidak akan dibangkitkan).”
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَهْلَكَنِيَ اللّٰهُ وَمَنْ مَّعِيَ اَوْ رَحِمَنَاۙ فَمَنْ يُّجِيْرُ الْكٰفِرِيْنَ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ Qul ara’aitum in ahlakaniyallāhu wa mam ma‘iya au raḥimanā, famay yujīrul-kāfirīna min ‘ażābin alīm(in). Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami (dengan memperpanjang umur kami,) lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?”
قُلْ هُوَ الرَّحْمٰنُ اٰمَنَّا بِهٖ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ Qul huwar-raḥmānu āmannā bihī wa ‘alaihi tawakkalnā, fasata‘lamūna man huwa fī ḍalālim mubīn(in). Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Zat Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan hanya kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.”
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ ࣖ Qul ara’aitum in aṣbaḥa mā’ukum gauran famay ya’tīkum bimā’im ma‘īn(in). Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika (sumber) air kamu surut ke dalam tanah, siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”
Islam adalah salah satu agama terbesar di dunia, dengan jutaan pengikut yang tersebar di berbagai negara. Bagi seorang Muslim, ada dua konsep penting yang membentuk landasan utama dalam beragama, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam. Kedua konsep ini tidak hanya mendefinisikan keyakinan dan praktik ibadah, tetapi juga menjadi panduan hidup sehari-hari yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap Muslim.
Artikel ini akan menguraikan secara rinci mengenai Rukun Iman dan Rukun Islam, menjelaskan maknanya, serta menyoroti mengapa kedua konsep ini sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Jika Anda mencari penjelasan mendalam tentang pilar-pilar utama dalam Islam atau ingin memperdalam pemahaman tentang keyakinan dan kewajiban dalam agama ini, artikel ini adalah sumber yang tepat.
Rukun Iman: Pilar-Pilar Keimanan dalam Islam
Rukun Iman merupakan enam poin kunci yang merangkum keyakinan dasar seorang Muslim terhadap Allah dan ajaran Islam. Ini adalah fondasi yang membentuk dasar dari semua aspek kehidupan spiritual seorang Muslim. Berikut adalah penjelasan dari keenam Rukun Iman:
Iman kepada Allah (Tawhid)Keyakinan pada keesaan Allah adalah pondasi utama dalam Islam. Seorang Muslim harus percaya bahwa hanya ada satu Allah yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Pencipta segala sesuatu. Keyakinan ini menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya yang layak disembah.
Iman kepada Malaikat (Malakiah)Seorang Muslim harus percaya pada keberadaan malaikat, makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu, seperti menyampaikan wahyu kepada para nabi dan mencatat perbuatan manusia.
Iman kepada Kitab-Kitab Suci (Kutubiyah)Dalam Islam, kitab suci merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada para nabi. Al-Quran, sebagai kitab terakhir dan paling utama, diakui sebagai pedoman hidup. Muslim juga percaya pada kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat, Zabur, dan Injil.
Iman kepada Para Nabi (Rusul)Muslim wajib percaya kepada semua nabi yang diutus oleh Allah, dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Para nabi ini diutus untuk memberi petunjuk dan bimbingan kepada umat manusia.
Iman kepada Hari Pembalasan (Qiyamah)Muslim percaya bahwa akan ada hari kiamat di mana semua manusia akan dibangkitkan untuk dihisab atas perbuatan mereka selama hidup. Hari Pembalasan ini menentukan nasib akhir setiap individu, apakah mereka akan masuk surga atau neraka.
Iman kepada Takdir (Qadar)Takdir adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, telah ditetapkan oleh Allah. Meskipun manusia memiliki kehendak bebas, segala sesuatu tetap berada di bawah pengetahuan dan kehendak Allah.
Rukun Islam: Praktik-Praktik Utama dalam Kehidupan Seorang Muslim
Rukun Islam adalah lima pilar utama yang harus diamalkan oleh setiap Muslim sebagai manifestasi nyata dari keimanan mereka. Rukun Islam ini meliputi tindakan-tindakan yang wajib dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah lima Rukun Islam:
Syahadah (Pernyataan Iman) Syahadat adalah deklarasi keyakinan yang menjadi inti dari iman seorang Muslim: “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Ini adalah pernyataan dasar yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan untuk menjadi seorang Muslim.
Sholat (Salat)Sholat adalah ibadah yang wajib dilakukan lima kali sehari pada waktu-waktu tertentu. Melalui sholat, seorang Muslim berkomunikasi langsung dengan Allah, menunjukkan rasa syukur, dan memohon bimbingan.
Zakat (Pemberian Amal)Zakat adalah kewajiban memberikan sebagian dari harta kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah bentuk kepedulian sosial yang mengajarkan pentingnya membantu sesama dan mengurangi kesenjangan ekonomi.
Puasa (Sawm)Selama bulan Ramadhan, Muslim berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih pengendalian diri dan memperdalam kesadaran spiritual.
Haji (Perjalanan Ke Mekah)Haji adalah perjalanan ke kota suci Mekah yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang mampu, setidaknya sekali seumur hidup. Haji adalah puncak dari ibadah seorang Muslim dan melambangkan kesatuan umat Islam di seluruh dunia.
Rukun Iman dan Rukun Islam adalah pilar-pilar utama yang membentuk dasar keyakinan dan praktik dalam agama Islam. Rukun Iman memberikan panduan spiritual dan keyakinan dasar yang harus dimiliki oleh setiap Muslim, sementara Rukun Islam menekankan pentingnya mengamalkan ajaran-ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Memahami dan menjalankan kedua konsep ini adalah esensial untuk membentuk kehidupan beragama yang penuh makna dan kesalehan.
Asmaul Husna adalah kumpulan 99 nama atau sifat yang agung dari Allah dalam ajaran Islam. Setiap nama ini bukan hanya sekadar sebutan, tetapi juga merepresentasikan keagungan, kekuasaan, dan kasih sayang Allah. Asmaul Husna adalah cerminan dari sifat-sifat Allah yang sempurna dan merupakan sumber inspirasi serta petunjuk bagi umat Muslim untuk lebih memahami dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Bukhari dan Muslim:
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya (memahaminya), maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 2736, 7392; Muslim no. 6989)
Allah SWT juga berfirman: اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Artinya: “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang indah (al-Asma’ul Husna).” (QS. Thaha [20:8])
Pentingnya Memahami dan Mengamalkan Asmaul Husna
Mengenal dan memahami makna dari Asmaul Husna memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Setiap nama atau sifat Allah dalam Asmaul Husna membawa pesan mendalam tentang keesaan dan kemuliaan Allah. Dengan memahami Asmaul Husna, umat Muslim dapat lebih mendalami keimanannya dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Misalnya, mengetahui bahwa Allah adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) dapat menginspirasi kita untuk selalu berbuat baik dan penuh kasih terhadap sesama.
Mengamalkan Asmaul Husna dalam Kehidupan Sehari-Hari
Mengamalkan Asmaul Husna tidak hanya sebatas melafalkan nama-nama Allah, tetapi juga menginternalisasi sifat-sifat tersebut dalam perilaku kita sehari-hari. Beberapa cara praktis untuk mengamalkan Asmaul Husna adalah:
Menghafal dan Memahami: Menghafal 99 nama Allah dan merenungkan maknanya dapat memperdalam iman dan mendekatkan diri kepada Allah.
Menerapkannya dalam Doa dan Dzikir: Mengucapkan Asmaul Husna dalam doa atau dzikir dapat meningkatkan kedekatan spiritual dengan Allah.
Mencerminkan dalam Tindakan: Contohnya, dengan meniru sifat Al-Ghafur (Maha Pengampun), kita bisa lebih pemaaf terhadap kesalahan orang lain, atau dengan meneladani Al-Adl (Maha Adil), kita bisa berusaha lebih adil dalam kehidupan sehari-hari.
Mengamalkan Asmaul Husna memberikan banyak manfaat rohani dan spiritual, antara lain:
Ketenangan Batin: Merenungkan nama-nama Allah dapat memberikan ketenangan hati dan menjauhkan kita dari kecemasan.
Penghiburan dalam Kesulitan: Menyadari bahwa Allah adalah Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia) dan Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) dapat menjadi penghibur di saat kita menghadapi tantangan hidup.
Penguatan Iman: Dengan mengingat sifat-sifat Allah, iman kita akan semakin kokoh dan rasa cinta kepada Allah akan semakin mendalam.
Daftar 99 Asmaul Husna
Kaligrafi Asmaul Husna
Berikut adalah 99 nama Asmaul Husna, yang terdiri dari versi Latin, Arab, dan artinya:
Ar-Rahman: الرحمن – Maha Pengasih
Ar-Rahim: الرحيم – Maha Penyayang
Al-Malik: الملك – Maha Merajai
Al-Quddus: القدوس – Maha Suci
As-Salam: السلام – Maha Memberi Kesejahteraan
Al-Mu’min: المؤمن – Maha Memberi Keamanan
Al-Muhaymin: المهيمن – Maha Pengawas
Al-‘Aziz: العزيز – Maha Perkasa
Al-Jabbar: الجبار – Maha Memperbaiki
Al-Mutakabbir: المتكبر – Maha Megah
Al-Khaliq: الخالق – Maha Pencipta
Al-Bari’: البارئ – Maha Melepaskan
Al-Musawwir: المصور – Maha Membentuk Rupa
Al-Ghaffar: الغفار – Maha Pengampun
Al-Qahhar: القهار – Maha Memaksa
Al-Wahhab: الوهاب – Maha Pemberi Karunia
Ar-Razzaq: الرزاق – Maha Pemberi Rezeki
Al-Fattah: الفتاح – Maha Pembuka
Al-‘Alim: العليم – Maha Mengetahui
Al-Qabid: القابض – Maha Menyempitkan
Al-Basit: الباسط – Maha Melapangkan
Al-Khafid: الخافض – Maha Merendahkan
Ar-Rafi’: الرافع – Maha Meninggikan
Al-Mu’izz: المعز – Maha Memuliakan
Al-Mudzill: المذل – Maha Menghinakan
As-Sami’: السميع – Maha Mendengar
Al-Basir: البصير – Maha Melihat
Al-Hakam: الحكم – Maha Menentukan
Al-‘Adl: العدل – Maha Adil
Al-Latif: اللطيف – Maha Lembut
Al-Khabir: الخبير – Maha Mengenal
Al-Halim: الحليم – Maha Penyantun
Al-‘Azim: العظيم – Maha Agung
Al-Ghafur: الغفور – Maha Pengampun
Asy-Syakur: الشكور – Maha Pembalas Budi
Al-‘Aliyy: العلي – Maha Tinggi
Al-Kabir: الكبير – Maha Besar
Al-Hafiz: الحفيظ – Maha Memelihara
Al-Muqit: المقيت – Maha Pemberi Kecukupan
Al-Hasib: الحسيب – Maha Membuat Perhitungan
Al-Jalil: الجليل – Maha Mulia
Al-Karim: الكريم – Maha Pemurah
Ar-Raqib: الرقيب – Maha Mengawasi
Al-Mujib: المجيب – Maha Mengabulkan
Al-Wasi’: الواسع – Maha Luas
Al-Hakim: الحكيم – Maha Bijaksana
Al-Wadud: الودود – Maha Mengasihi
Al-Majid: المجيد – Maha Mulia
Al-Ba’ith: الباعث – Maha Membangkitkan
Asy-Syahid: الشهيد – Maha Menyaksikan
Al-Haqq: الحق – Maha Benar
Al-Wakil: الوكيل – Maha Memelihara
Al-Qawiyy: القوي – Maha Kuat
Al-Matin: المتين – Maha Kokoh
Al-Waliyy: الولي – Maha Melindungi
Al-Hamid: الحميد – Maha Terpuji
Al-Muhsi: المحصي – Maha Menghitung
Al-Mubdi: المبدئ – Maha Memulai
Al-Mu’id: المعيد – Maha Mengembalikan Kehidupan
Al-Muhyi: المحيي – Maha Menghidupkan
Al-Mumit: المميت – Maha Mematikan
Al-Hayy: الحي – Maha Hidup
Al-Qayyum: القيوم – Maha Berdiri Sendiri
Al-Wajid: الواجد – Maha Menemukan
Al-Majid: الماجد – Maha Mulia
Al-Wahid: الواحد – Maha Tunggal
Al-Ahad: الاحد – Maha Esa
As-Samad: الصمد – Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
Al-Qadir: القادر – Maha Berkuasa
Al-Muqtadir: المقتدر – Maha Berkuasa
Al-Muqaddim: المقدم – Maha Mendahulukan
Al-Mu’akhkhir: المؤخر – Maha Menunda
Al-Awwal: الأول – Maha Awal
Al-Akhir: الآخر – Maha Akhir
Az-Zahir: الظاهر – Maha Nyata
Al-Batin: الباطن – Maha Ghaib
Al-Wali: الوالي – Maha Memerintah
Al-Muta’ali: المتعالي – Maha Tinggi
Al-Barr: البر – Maha Penderma (Penuh Kebaikan)
At-Tawwab: التواب – Maha Penerima Tobat
Al-Muntaqim: المنتقم – Maha Pembalas Dendam
Al-‘Afuww: العفو – Maha Pemaaf
Ar-Ra’uf: الرؤوف – Maha Pengasih
Malikul-Mulk: مالك الملك – Pemilik Kerajaan (Segala Kekuasaan)
Dzul-Jalal Wal-Ikram: ذو الجلال والإكرام – Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
Al-Muqsit: المقسط – Maha Pemberi Keadilan
Al-Jami’: الجامع – Maha Mengumpulkan
Al-Ghaniyy: الغني – Maha Kaya
Al-Mughni: المغني – Maha Pemberi Kekayaan
Al-Mani’: المانع – Maha Mencegah
Ad-Darr: الضار – Maha Penyebab Kesusahan
An-Nafi’: النافع – Maha Memberi Manfaat
An-Nur: النور – Maha Penerang
Al-Hadi: الهادي – Maha Pemberi Petunjuk
Al-Badi: البديع – Maha Pencipta yang Maha Luar Biasa
Al-Baqi: الباقي – Maha Kekal
Al-Warith: الوارث – Maha Pewaris
Ar-Rasyid: الرشيد – Maha Pandai
As-Sabur: الصبور – Maha Sabar
Mempelajari dan mengamalkan Asmaul Husna adalah bagian integral dari perjalanan spiritual seorang Muslim. Nama-nama yang mulia ini tidak hanya memberikan wawasan tentang sifat-sifat Allah, tetapi juga menjadi panduan dalam membentuk karakter yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah. Mengamalkan Asmaul Husna bisa membawa ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam hidup kita di dunia dan akhirat.
Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipercaya, seperti Al-Qur’an, Hadis, dan literatur Islam lainnya. Semoga pengetahuan tentang Asmaul Husna ini memperkaya iman Anda dan memberi inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Masyaallah Tabarakallah” adalah frasa yang sering diucapkan oleh umat Muslim untuk mengekspresikan kekaguman dan memuji kebesaran Allah SWT. Kedua ungkapan ini sarat dengan makna spiritual yang mendalam, mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan pentingnya bersyukur atas segala nikmat-Nya.
1. Makna “Masyaallah” dan “Tabarakallah”
Masyaallah: Berarti “Allah telah berkehendak”. Ungkapan ini mencerminkan pengakuan atas kehendak dan rencana Allah yang sempurna dalam setiap aspek kehidupan kita.
Tabarakallah: Berarti “Allah Maha Mulia”. Dengan mengucapkan frasa ini, kita memuji kemuliaan dan kebesaran Allah SWT.
Kedua frasa ini seringkali digabungkan menjadi satu kalimat, khususnya saat seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang mengesankan, sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur kepada Allah.
Frasa ini umum digunakan dalam berbagai kesempatan, seperti ketika melihat sesuatu yang indah, mendengar kabar baik, atau saat menyaksikan pencapaian orang lain.
3. Menjawab Ucapan “Masyaallah Tabarakallah”
Jika Anda menerima ucapan “Masyaallah Tabarakallah”, balasan yang sesuai adalah mengucapkan Amin dan berterima kasih. Selain itu, Anda juga bisa mendoakan orang yang mengucapkan, karena “Tabarakallah” mengandung doa kebaikan.
Contoh: “Masyaallah Tabarakallah. Kamu benar-benar berbakat!” “Amin. Terima kasih, semuanya berkat Allah SWT.”
4. Ungkapan Lain: “Masyaallah La Quwwata Illaa Billah”
Selain “Masyaallah Tabarakallah”, ada juga frasa “Masyaallah La quwwata illa billah” yang sering digunakan untuk mengakui bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah dan hanya dengan kekuatan-Nya segala sesuatu bisa terjadi.
Makna: “Allah telah berkehendak, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.
Penulisan Arab: ما شاء الله لا قوة إلا بالله
Ungkapan ini menekankan pentingnya berserah diri kepada Allah dan menyadari bahwa manusia memiliki keterbatasan, dan hanya dengan bantuan Allah kita bisa menghadapi berbagai tantangan hidup.
Niat dalam melaksanakan sholat adalah salah satu rukun yang tidak boleh ditinggalkan, karena jika ditinggalkan maka sholatnya tidak sah.
Dalam pelaksanaannya niat boleh dibaca melalui lisan atau melalui hati, akan tetapi perlu dipahami. Bahwa sebaiknya niat tidak hanya dibaca melalui lisan ataupun hati melainkan diikut sertakan mulai dari takbir hingga salam.
Sehingga tujuan sholat yang dilaksanakan sesuai dengan makna dari niat tersebut yakni karena Allah SWT, tidak keluar dari niat yang sudah dii’tiqodkan.
Pengertian Sholat Dhuha
Sholat dhuha adalah sholat sunah yang dianjurkan Rosulullah untuk dikerjakan yakni bisa dua rokat, empat rokaat, enam rokaat atau delapan rokaat dan seterusnya.
Akan tetapi pelaksanaannya dikerjakan dua rokaat salam kemudian dilanjutkan kembali mengerjakan dua rokaat selanjutnya.
Meskipun sholat dhuha ini dianjurkan Rosdulullah untuk dilaksanakan akan tetapi tidak semua muslim diberi keluangan waktu untuk mengerjakannya.
Karena diwaltu tersebut sudah disibukkan dengan pekerjaan yang terkadang dalam tempat kerja tersebut tidak ada waktu untuk sholat dhuha.
Kapan Waktu Sholat Dhuha
Agar dapat menjadwalkan setiap harinya untuk melaksanakan sholat dhuha maka sangat penting mengetahui kapan waktu sholat dhuha.
Seiring dengan kesibukan yang kerapkali membuat terlena dan tidak sempat untuk melaksanakan ibadah sholat dhuha.
Berikut adalah waktu yang tepat untuk mengerjakan sholat dhuha :
Menuqil dari kitab Fathul Qorib terkait waktu sholat dhuha yakni mulai dari matahari setinggi satu tombak hingga masuknya waktu istiwak yakni ketika matahari pas diatas kepala atau sejajar dengan kepala.
Jika disandingkan dengan waktu yang ada diindonesia yakni berkisar pukul 06 : 30 Wib hingga 12.00 Wib.
Bagi yang ingin melaksanakan sholat dhuha namun berbenturan dengan waktu kerjanya, maka waktu upayakan sebelum berangkat kerja sholat terlebih dahulu.
قدِم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ، فقدِمْتُ المدينةَ، فدخلتُ عليه، فقلتُ: أخبِرْني عن الصلاةِ، فقال: صلِّ صلاةَ الصُّبحِ، ثم أَقصِرْ عن الصَّلاةِ حين تطلُعُ الشمسُ حتى ترتفعَ؛ فإنَّها تطلُع حين تطلُع بين قرنَي شيطانٍ، وحينئذٍ يَسجُد لها الكفَّارُ، ثم صلِّ؛ فإنَّ الصلاةَ مشهودةٌ محضورةٌ، حتى يستقلَّ الظلُّ بالرُّمح
Artinya :
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, ketika itu aku pun datang ke Madinah. Maka aku pun menemui beliau, lalu aku berkata: wahai Rasulullah, ajarkan aku tentang shalat. Beliau bersabda: kerjakanlah shalat shubuh. Kemudian janganlah shalat ketika matahari sedang terbit sampai ia meninggi. Karena ia sedang terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah ia meninggi, baru shalatlah. Karena shalat ketika itu dihadiri dan disaksikan (Malaikat), sampai bayangan tombak mengecil” (HR. Muslim no. 832).
Kapan Batas Waktu Sholat Dhuha
Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa batasan waktu sholat dhuha yakni waktu istiwak “posisi matahari berada tepat diatas kepala”
Dalam posisi tersebut bayangan suatu benda akan menyatu dengan benda itu sendiri, jika suha melewati sedikit saja benda tersebut maka masuklah waktu zuhur.
Berapa Rokaat Sholat Dhuha
Sholat dhuha pada umumnya yakni dikerjakan dua Rokaat, namun boleh juga ditambah menjadi empat Rokaat dan seterusnya hingga tak terbatas.
Akan tetapi pelaksanaannya dua rokaat salam kemudian dilanjutkan kembali sholat dua rokaat salam dan seterusnya.
Terkait jumlah rokaat sholat dhuha ini Rosulullah SAW bersabda :
HR. Muslim no. 719
عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: كان رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ الله
Artinya :
“Dari Aisyah RA, dia berkata bahwa Rasulullah SAW biasa sholat dhuha empat rakaat. Dan beliau menambah berapa pun yang dikendaki Allah SWT.” (HR Muslim No. 719).
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di tahun terjadinya Fathu Makkah beliau shalat delapan rakaat shalat dhuha” (HR. Bukhari no. 1103, Muslim no. 336).
Fadhilah Melaksanakan Sholat Dhuha
Ibadah yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW tentunya memiliki fadhilah atau keutamaan yang sangat luarbiasa.
Begitu pula dengan sholat dhuha tentunya banyak fadhilah atau keutamaan yang perlu diketahui oleh umat muslim.
Sebelum membahas tentang niat sholat dhuha ada baiknya pahami terlebih dahulu beberapa keutamaan yang ada didalamnya.
Agar ketika melaksanakan ibadah sholat dhuha semakin semangat dan memiliki tujuan sesuai dengan niat sholat tersebut yakni karena Allah SWT.
Simak dibawah ini keutamaan atau fadhilah melaksanakan sholat dhuha :
Mengikuti Sunah Rosulullah SAW
Sebagaimana telah diketahui bahwa hukum melaksanakan sholat dhuha adalah sunnah yang dianjurkan oleh Rosulullah SAW.
Tentunya ketika melaksanakannya maka otomatis mengikuti sunnah yang diajarkan oleh sang Nabi. Dan perlu juga dipahami bahwa ibadah yang dianjurkan oleh Rosulullah tentu memiliki fadhilah yang sangat banyak.
Terkait anjuran Rosulullah SAW untuk umatnya agar melaksanakan sholat dhuha disampaikan dalam sebuah hadis qudsi.
“Allah Ta’ala berfirman : Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang” (HR. Tirmidzi no. 475, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. 4342).
Allah Berikan Ampunan
Bgi seorang muslim yang taat dan rutin menjalankan ibadah sholat dhuha maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. bahkan digambarkan meskipun dosa yang milikinya seperti buih dilautan.
Meskipun sangat disadari bahwa manusia tempatnya salah dan dosa, berarti tidak pernah luput dari kedua hal tersebut.
Akan tetapi jika seorang hamba tersebut bertaubah dan rutin melaksanakan sholat dhuha dengan ikhlas mengharap pertolongan Allah semata. Maka sangat layak mendapatkan pengampunan seperti yang tersirat didalam sebuah hadis dibawah ini.
“ Barangsiapa menjaga sholat dhuha, maka Allah akan mengampuni segala dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.”
Allah Cukupkan Kebutuhan Rezeki Dunia Dan Akhirat
Fadhilah bagi seorang muslim yang rutin melaksanakan ibadah sholat dhuha selanjutnya adalah Allah SWT cukupkan kebutuhan rezeki dunia dan akhirat.
Tak bisa dipungkiri sebagai menusia yang hidup dialam dunia tentu sangat membutuhkan banyak keperluan, baik untuk urusan agama, dunia dan akhirat.
Hal ini tidak bisa didapatkan hanya sekedar bersantai ria, tentunya harus dibarengi dengan kerja keras dan jangan lupa selipkan doa dalah sholat dhuha.
Rosulullah SAW bersabda :
عن أبي الدرداء وأبي ذرِّ ( رضي الله عنهما ) عن رسول الله صلى الله عليه وسلم : عن الله تبارك وتعالى أنه قال ابن آدم ، اركع لي أربع ركعاتٍ من أول النهار أكفك آخره “
Artinya :
“ Dari Abi Darda’ dan Abi Dzar dari Rasulullah saw (langsung) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala ‘ruku’lah untukku empat rakaat di permulaan hari (pagi), maka aku akan mencukupi-Mu di sisa hari-Mu’.”
Termasuk Hamba Yang Taat
Melaksanakan sholat dhuha tidak semudah yang dibayangkan karena banyak godaan dan tantangan. Disisi lain waktu sholat dhuha ini bertepatan dengan waktu kerja sehingga tidak mudah bagi kebanyakan orang untuk secara rutin melaksanakan ibadah sholat dhuha.
Maka dari itu menjadi hal yang wajar ketika ada seorang hamba yang rutin melaksanakan ibadah sholat dhuha. Maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang taat.
Allah Siapkan Rumah Di Surga
Fadhilah selanjutnya bagi seorang muslim yang melaksanakan sholat dhuha adalah Allah siapkan rumah disurga.
Hal ini pernah disampaikan oleh Rosulullah SAW dalam sebuah hadisnya :
Artinya :
“Barang siapa sholat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Allah Berikan Pahala Naik Haji Dan Umroh
Tidak semua ummat islam bisa mendapatkan pahala haji dan umroh, termasuk bagi seserang yang telah atau sedang haji sekalipun.
Karen semua itu tergantung daripada niat yang ada pada diri manusia itu sendiri dalam melaksanakan ibadah.
Bagi seorang muslim yang ingin mendapatkan pahala layaknya seperti haji dan umroh, maka rutin saja melaksanakan sholat dhuha dengan ikhlas hanya mengharap ridho Allah SWT.
Insya Allah akan mendapatkan pahala seperti orang yang haji dan umroh, karena Allah dan Rosulullah tidak pernah mengingkari janjinya.
Pengganti Sedekah Diri
Banyak ummat muslim sibuk akan sedekah, dinilai melalui sesuatu yang nampak seperti sedekah harta dan semisalnya.
Padahal ada beberapa sedekah yang sangat ringan namun jika dilaksanakan insya Allah akan berbuah sebagai sedekah.
Salah satunya adalah sedekah senyum dan melaksanakan sholat dhuha minimal dua rokaat namun denga ikhlas.
Rosulullah SAW bersabda :
يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن المنكر صدقة، ويجزئ عن ذلك ركعتان يركعهما من الضحي
Artinya :
Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan salat Duha dua rakaat. (HR Muslim).
Dijaga Kesehatannya Oleh Allah
Fadhilah sholat Dhuha lainnya adalah bahwa Allah SWT menjaga kesehatan bagi seorang muslim yang melaksanakannya. Salah satu alasannya yakni sholat Dhuha dilakukan pada waktu pagi setelah terbitnya matahari minimal dua rakaat atau lebih.
Dengan hal ini melaksanakan sholat Dhuha secara rutin dapat memberikan dampak positif pada kesehatan fisik dan mental.
Jauh Dari Sifat Lalai
Keutamaan dari sholat Dhuha selanjutnya adalah bahwa ibadah ini membantu menghindarkan seseorang dari sifat lalai atau lengah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sholat Dhuha melibatkan waktu yang biasanya dianggap sebagai saat istirahat atau waktu luang. Akan tetapi dengan melaksanakan sholat ini, seseorang terhindar dari kecenderungan untuk menjadi lalai atau terlena.
HR. Baihagi dari Abi Dzar/’anatut Tholibin, Juz. 1. hal. 254
Rosulullah SAW bersabda :
Artinya :
“Kalau kamu melaksanakan sholat Dhuha sebanyak dua raka’at maka kamu tidak ditulis dari golongan orang yang lalai, atau sebanyak empat raka’at maka kamu ditulis dari golongan orang-orang yang berbuat kebagusan, atau sebanyak enam raka’at maka kamu ditulis sebagai orang-orang yang selalu beribadah kepada Allah, atau sebanyak delapan raka’at maka kamu ditulis dari golongan orang-orang yang memperoleh keberuntungan, atau sebanyak sepuluh raka’at maka tidak ditulis atasmu pada hari itu dosa, kalau kamu melaksanakannya sebanyak dua belas raka’at maka Allah membangun untukmu rumah di surga.” (HR. Baihagi dari Abi Dzar/’anatut Tholibin, Juz. 1. hal. 254) |
Bacaan Niat Sholat Dhuha
Bacaan Niat Sholat Dhuha 2 Rokaat
Terkait penjelasan sholat dhuha dan juga fadhilah yang akan didapatkan oleh seorang yang melaksanakan ibadah sholat dhuha telah disampaikan pada laman atas.
Kali ini penulis akan merangkum terkait niat sholat dhuha yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan oleh para ulama.
Simak ulasan dibaawah ini beberapa bacaan niat sholat dhuha yang d apat diamalkan ketika hendak melaksanakannya.
“Saya niat sholat sunnah dhuha 4 rokaat karena Allah ta’ala,”
Tata Cara Sholat Dhuha
Layaknya seperti sholat sunnah lainnya sholat dhuha juga untuk pelaksanaannya memiliki 13 rukun sholat yang wajib dikerjakan.
Jika salah satu rukun sholat tersebut ditinggalkan dengan sengaja, maka sholat dhuha yang dikerjakan tidak sah.
Berikut tata cara melaksanakan sholat dhuha dapat disimak dibawah ini :
Niat
Yang pertama kali sebelum melaksanakan sholat dhuha yang wajib diterapkan adalah niat, yakni keinginan yang kuat untuk melaksanakan sholat hanya karena Allah SWT.
Takbir
Setelah niat kemudian disambut dengan membaca Takbirotul Ikhrom “الله أكبر” yang artinya Allah maha besar.
Ketika sudah mengucapkan takbir berarti ikrar tersebut mengi’tiqodkan bahwa tidak ada lagi sesuatu yang lebih agung, lebih mulia, lebih besar, lebih kuasa selain Allah.
Berdiri Tegak Lurus
Kemudian berdiri tegak lurus layaknay seperti huruf Alif yang menyatakan bahwa tuhan itu satu.
Sunnah Membaca Doa Iftitah
Dalam posisi tegak yakni membaca doa iftitah, hal ini sunah namun sangat dianjurkan untuk dibaca, karena makna dari doa tersebut adalah penyerahan diri kepada Allah.
Baca Surat Al-Fatihah
Kemudian dilanjutkan membaca surat Al-Fatihah mulai dari ayat pertama hingga akhir, usahakan bacaannya jelas dan sesuai dengan kaidah tajwid.
Membaca Surat Pendek
Membaca surat pendek dalam sholat ini juga termasuk hal yang sunnah, jika melaksanakan sholat sendiri boleh membaca ayat yang panjang.
Akan tetapi jika menjadi imam maka harus melihat kondisi makmumnya sebaiknya ambil ayat yang pendek saja.
Ruku’
Setelah membaca surat pendek kemudian merubah gerakan dari berdiri menjadi ruku’, hal ini adalah rukun. Didalam posisi ruku’ sunnah membaca tasbih 3 kali yakni memuji Allah.
Tumakninah
Tumakninah ini masih dalam keadaan ruku’ maksudnya adalah posisi rukuk harus tenang baik kodisi luarnya maupun hatinya.
I’tidal
Kemudian merubah posisi dari ruku’ menjadi i’tidal yakni bangun dari rukuk, berdiri tegak lurus seperti pada permulaan sholat. Disunahkan membaca doa pada umumnya sholat.
Tumakninah
Dalam posisi I’tidal juga harus tumakninah yitu tenang tidak gelisah, tidak banyak bergerak terutama posisi hati harus manteng hanya kepada Allah.
Sujud
Setelah i’tidal maka posisi sholat berubah dalam keadaan sujud, hal ini adalah rukun yang tidak dapat ditinggalkan.
Dalam kondisi sujud disunnahkan membaca tasbih yakni memuji Allah SWT boleh satu kali sampai 3 kali.
Tumakninah
Posisi sujud juga wajib tumakninah terutama posisi hati harus tetap ingat kepada Allah SWT
Lungguh
Lungguh ini adalah duduk diantara dua sujud
Tumakninah
Posisi lungguh juga wajib tumakninah atau tenang tidak boleh banyak bergerak, jaga posisi hati untuk selalu zikir kepada Allah.
Sujud Yang Kedua
Setelah duduk diantara dua sujud kemudian posisi sholat berubah kembali menjadi sujud yang kedua. Bacaannya sama yakni tasbih memuji Allah SWT wajib tumakninah.
Duduk Tahiyat Akhir
Kemudian setelah sujud yang kedua dilanjutkan dengan duduk tahiyat akhir, posisi duduk adalah rukun jadi tidak boleh ditinggal.
Membaca Doa Tahiyat Akhir
Dalam posisi duduk tahiyat akhir maka wajib membaca doa didalamnya, yang sering disebut dengan doa tahiyat akhir
Membaca Sholawat Nabi
Setelah doa tahiyat akhir selesai dibaca, kemudian dilanjutkan dengan membaca sholawat nabi.
Salam
Dan yang terakhir adalah salam, rukunnya adalah salam pertama sedangkan salam yang kedua adalah sunnah.
Demikianlah ulasan tentang bacaan niat sholat dhuha berikut pengertian, fadhilah dan tata caranya. Semua sudah penulis sampaikan menjadi sebuah artikel yang ada di website acuantoday.com. Semoga dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan juga semangat dalam melaksanakan ibadah sholat sunah dhuha.