Tag: idul adha

  • Inilah Takbir Hari Raya Idul Adha Berdasarkan Madzhab Imam Syafii

    10 Dzulhijjah merupakan hari raya besar yang diperingati oleh kaum muslimin di seluruh belahan dunia, yaitu Hari Raya Idul Adha. Sebagian umat muslim pada hari raya tersebut menyembelih hewan qurban yang menjadi sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Sama seperti pada Hari Raya Idul Fitri, seluruh umat islam dianjurkan untuk melakukan takbir di malam sebelum Hari Raya Idul Adha hingga pagi hari sebelum dilakukannya sholat Ied.

    Adapun dalil dari dianjurkannya takbir pada hari raya idul fitri maupun idul adha adalah sebagai berikut:

    • Allah Ta’ala berfirman,

    وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

    • Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya mengenai waktu takbir pada kedua hari raya tersebut, lalu beliau menjawab:
      “Segala puji bagi Allah, pendapat yang paling benar tentang takbir ini yang jumhur salaf dan para ahli fiqih dari kalangan sahabat serta imam berpegang dengannya adalah : Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat”.
    • Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah bertakbir di kubah di Mina, kemudian orang=orang mendengar takbir yang berada di sekitar masjid tersebut lalu mereka bertakbir.

    Lalu. bagaimana lafaz takbir hari raya? Berikut ini keterangan tentang takbir hari raya menurut tinjauan madzhab Imam Syafii.

    Takbir di hari raya merupakan hal yang sunnah. Takbir merupakan syiar bagi kaum muslimin dengan mengeraskan suara. Takbir secara mutlak disunnahkan untuk diucap pada hari raya Idul Fitri dan Idun Adha.

    Waktu dilakukannya takbir yaitu dari tenggelamnya matahari pada malam memasuki tanggal hari raya hingga saat imam memuali sholat Ied.

    Lafaz takbir yang disunnahkan adalah sebagai berikut:

    1. Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd.
    2. Berdasarkan madzhab Imam Syafii, juka takbir di atas sudah diucapkan sebanyak tiga kali, maka ada tambahan lafadz yaitu:
      “Allahu akbar kabiro, walhadulillahi katsiro, wa Subhanallahi bukrotaw wa ashila. Laa ilaha illalah, wa laa na’budu iyyah, mukhlishina lahuddiin walaw karihal kaafiruun. Laa ilaha illallahu wahdah, shodaqo wa’dah, wa nashoro ‘abdah. Wa hazamal ahzaaba wahdah. Laa ilaha illahu wallahu akbar.”

    Beberapa ulama pun menyatakan, selain melantunkan takbir, ada ibadan sunnah lain yang bisa dilakukan pada malam Id dengan ibadah seperti perbanyak baca al-quran, berdoa, dan beristighfar,dan mal sholih lainnya.

  • 7 Amalan Bulan Dzulhijjah yang Wajib Diketahui Umat Muslim, Apa Saja?

    Sidang Isbat untuk menentukan 1 Dzulhijjah 1445 H akan dilakukan oleh pemerintah pada hari ini, Jumat (7/6/2024). Lalu, apa saja amalan bulan Dzulhijjah yang dianjurkan?

    Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan. Atau yang biasa dikenal dengan istilah bulan haram bersama ketiga bulan lainnya, yaitu Muharram, Rajab, dan Zulkaidah. Seperti yang dijelaskan dalam kitab suci Al-Quran surat At-Taubah ayat 36.

    Dengan kemuliaannya itu, umat Muslim pun dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Diketahui, sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah merupakan hari yang istimewa. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran surat Al Fajr ayat 2 yang artinya: “Demi malam yang sepuluh.”

    Ayat ini lalu ditafsirkan bahwa yang dimaksudkan yaitu 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah. Karena itulah, pada 10 hari pertama ini sebaiknya umat Islam memperbanyak amalan baik, seperti membaca Al-Quran, berpuasa, dan bersedekah.

    7 Amalan Bulan Dzulhijjah

    Selain ibadah wajib, ada juga amalan bulan Dzulhijjah yang sebaiknya dilakukan oleh umat Muslim. Berikut ini beberapa amalan yang bisa dilakukan di bulan Dzulhijjah.

    1. Puasa sunnah

    Umat Muslim dianjurkan untuk berpuasa sunnah selama tanggal 1-9 Dzulhijjah. Di antara sembilan hari itu, ada beberapa puasa yang dimuliakan oleh Allah SWT. Di antaranya yakni puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan puasa Arafah (9 Dzulhijjah).

    2. Membaca Al-Qur’an

    Setelah ibadah wajib, tidak ada salahnya untuk melanjutkan dengan tadarus Al-Quran selama bulan ini. Atau bisa juga membaca Al-Quran saat waktu senggang atau setelah melaksanakan salat Magrib.

    3. Berkurban

    Dilansir dari NU Online, berkurban adalah salah satu amalan bulan Dzulhijjah yang dianjurkan. Allah SWT akan melimpahkan pahala yang sangat besar kepada siapa pun yang menjalankan ibadah kurban.

    Selain itu, berkurban juga menjadi bentuk untuk meneladani ketaatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada Allah SWT.

    4. Salat sunah

    Tidak hanya sholat wajib, umat Islam juga dianjurkan untuk menunaikan salat sunah lainnya, terutama di 10 hari pertama. Kemudian pada hari ke-10, bagi umat Islam yang tidak berhalangan disunahkan untuk menunaikan salat Idul Adha.

    5. Berzikir

    Memperbanyak zikir juga merupakan amalan bulan Dzulhijjah yang dapat dilakukan, utamanya di 10 hari pertama. Berdzikir bisa dilakukan setelah melaksanakan sholat wajib.

    Zikir sendiri adalah sarana untuk mengingat keagungan Allah SWT. Berikut ini beberapa contoh kalimat zikir:

    1. Tahlil

    La ilaha illal-Lah (Tiada Tuhan selain Allah SWT)

    2. Takbir

    Allahu akbar (Allah maha besar)

    3. Tasbih

    Subhanallah (Maha suci Allah)

    4. Tahmid

    Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)

    6. Menunaikan Ibadah Haji

    Haji adalah rukun Islam ke-5. Ibadah ini juga termasuk salah satu amalan bulan Dzulhijjah yang disunahkan. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

    “Sudah sewajarnya bahwa haji lebih utama dari jihad, sebab peribadatan haji terkhususkan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun ibadah haji merupakan amal yang paling utama dilaksanakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif [Beirut, Maktabah Islami: 2007], Hal 462)

    Lalu pada hari Arafah, yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah, umat Islam yang sedang berhaji akan melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Sementara itu, bagi umat Muslim yang tidak melaksanakan haji disarankan untuk berpuasa sunah.

    Dengan berpuasa dan memohon ampunan pada Allah SWT di hari tersebut, segala dosa dari satu tahun lalu akan diampuni.

    7. Bertaubat

    Melansir dari laman UII, sebagai umat Islam kita diperintahkan untuk bertaubat dan menjauhi maksiat. Pada awal bulan Dzulhijjah inilah umat Islam ditekankan untuk bertaubat dari berbagai dosa-dosa dan maksiat.

    Artinya, kita sibukkan diri pada awal bulan Dzulhijjah dengan berbagai amalan saleh serta menjauhkan diri dari kezaliman terhadap sesama.

    Itu dia 7 amalan bulan Dzulhijjah yang wajib diketahui oleh umat Islam. Selain bulan haji, di bulan ini juga terdapat Hari Raya Idul Adha. Tepat pada perayaan Idul Adha akan dilakukan pemotongan hewan kurban.

    Baca Juga: Cara Pembagian Daging Kurban yang Benar dan Sesuai Syariat Islam

    Kemudian, setelah Hari Raya Idul Adha akan terdapat hari Tasyrik. Di mana umat Islam diharamkan untuk berpuasa. Di bulan Dzulhijjah ada tiga hari tasyrik, yakni tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah. Pada tasyrik, pemotongan hewan kurban masih diperbolehkan.

    Itulah 7 amalan bulan Dzulhijjah yang wajib diketahui Umat Islam, semoga informasi di atas bermanfaat. 

  • 7 Ide Menu Daging Sapi Idul Adha yang Mudah untuk Masak Bareng Temen Kost

    Sebentar lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Bagi perantau, perayaan Idul Adha bisa menjadi momen untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Namun tidak semua orang beruntung bisa merayakan momen Idul Adha di rumah.

    Untuk kamu yang bekerja dan tidak bisa mengambil jatah cuti, biasanya Idul Adha dirayakan secara sederhana bersama teman kosan. Agar momen ini tetap berkesan, kamu bisa memasak bareng. Jika biasanya daging sapi dimasak menjadi sate atau rendang, kali ini coba buat olahan bercita rasa internasional. Berikut beberapa ide menu daging sapi yang patut kamu coba.

    1. Gyudon, Jepang

    Gyudon tentu sudah tidak asing bagi penggemar sajian rice bowl. Menu khas Jepang satu ini terdiri dari telur dan tumisan daging sapi yang dihidangkan di atas nasi hangat.

    Cara pembuatannya pun mudah. Tumis daging sapi bersama bawang bombay, soy sauce, kaldu dan gula, kemudian masak sampai matang. Menu ini lebih cocok menggunakan daging sapi berlemak yang diiris sangat tipis.

    2. Tteokgalbi, Korea

    Olahan ala Korea satu ini juga bisa dijadikan ide masak bareng temen kosan saat Idul Adha karena nggak ribet. Tteokgalbi adalah makanan yang mirip beef patties.

    Menurut resep aslinya, tteokgalbi menggunakan daging iga cincang yang dibentuk seperti patties. Setelah berbentuk patties, selanjutnya dimarinasi dengan irisan bawang putih, bawang bombai, soy sauce, minyak wijen, madu, lada hitam bubuk, dan sedikit air. Masak menggunakan teknik broiling di oven selama 10 menit pada masing-masing sisi.

    3. Milanesa, Argentina

    Bahan-bahan untuk milenisa sangatlah mudah. Kamu hanya perlu menyiapkan tepung, telur, tepung roti, daging sapi yang dipipihkan, garam dan lada bubuk.

    Balut daging pipih dengan tepung berbumbu, kemudian celupkan ke dalam kocokan telur, dan balurkan tepung roti. Setelah seluruh permukaan daging tertutup tepung roti, goreng hingga merata. Kamu bisa menikmati milanesa dengan mashed potatoes atau kentang goreng.

    4. Kway teow neua, Thailand

    Hidangan berkuah ala Thailand ini juga bisa menjadi ide masak daging sapi saat Idul Adha nanti. Berbeda dengan lagman, kway teow neua atau thai beef noodles ini menggunakan mie kwetiau.

    Cita rasa yang kaya dan berempah didapatkan dari bumbu-bumbu seperti daun jeruk, lengkuas, serai, bawang putih, kembang lawang, merica, dan kecap ikan.

    5. Hachee, Belanda

    Makanan single-pot ini banyak disukai masyarakat Belanda karena praktis. Konon, Hachee sudah ada sejak abad pertengahan, ide hidangan ini memanfaatkan sisa daging dan sayuran.

    Saat membuatnya disarankan untuk menggunakan dutch oven atau panci anti lengket. Sebab, irisan bawang bombay dan daging sapi akan ditumis langsung dalam panci sebelum ditambahkan air.

    Masak daging sapi bersama cengkeh, daun salam, merica, dan cuka apel selama dua jam dengan api kecil. Agar lebih lengkap, nikmati hachee dengan irisan kol ungu dan mashed potato.

    6. Lagman, Uzbekistan

    Makanan berkuah lainnya yang cocok untuk disajikan saat Hari Raya Idul Adha adalah Lagman dari Uzbekistan. Lagman adalah hidangan mie berkuah dengan topping sayuran dan daging sapi. Selain di Uzbekistan, kamu juga bisa menjumpai makanan ini di kawasan Asia Tengah dan komunitas Uighur, China.

    Biasanya, lagman menggunakan mie yang dibuat sendiri dari adonan tepung terigu, susu, dan kuning telur. Tapi kalau tidak memungkinkan membuat mie sendiri, kamu juga bisa menggunakan mie tarik atau la mian.

    Cara memasaknya, tumis potongan daging sapi bersama bawang bombay hingga matang lalu tambahkan kacang polong, kentang, pasta tomat, air kaldu, dan bumbu lainnya seperti jintan, lada bubuk, serta garam.

    7. Orman kebabi, Turki

    Momen Idul Adha akan terasa lebih lengkap dengan sajian makanan khas Timur Tengah. Kalau membuat nasi kabsah terlalu merepotkan karena menggunakan banyak bahan, nah orman kebab bisa menjadi pilihan.

    Hidangan sejenis beef stew ini dimasak bersama potongan kentang, wortel, dan kacang polong. Irisan daging sapi harus digoreng lebih dulu dalam balutan tepung hingga matang. Kemudian, daging sapi dimasak dalam panci yang telah berisi sayuran, pasta tomat, dan rempah-rempah lainnya hingga empuk.

    Itulah 7 ide masakan daging sapi untuk masak bersama teman kosan saat Idul Adha nanti. Selain perut kenyang, skill memasak juga bertambah, deh!

  • Cara Pembagian Daging Kurban yang Benar dan Sesuai Syariat Islam

    Hari Raya Idul Adha adalah salah satu hari yang paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari tersebut, umat Islam menunaikan berbagai macam ibadah yang sangat dianjurkan, termasuk haji bagi yang mampu dan ibadah kurban.

    Ibadah kurban memiliki aturan dan ketentuan khusus yang harus dipatuhi agar ibadah yang dilakukan sah dan diterima oleh Allah SWT. Salah satu aspek penting dalam ibadah kurban adalah pembagian daging kurban. Memahami dan mengikuti ketentuan ini sangat penting agar ibadah kurban yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam.

    Ketentuan Pembagian Daging Kurban

    Pembagian daging kurban tidak bisa dilakukan sembarangan. Terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi sebelum daging kurban dibagikan kepada yang berhak. Berikut adalah penjelasan mengenai ketentuan dan cara pembagian daging kurban sesuai syariat Islam.

    Pembagian Daging Kurban dalam Bentuk Mentah

    Daging kurban yang dibagikan kepada fakir dan miskin atau yang berhak harus dalam bentuk mentah. Hal ini memberikan keleluasaan bagi penerima untuk memanfaatkan daging sesuai kebutuhan mereka. Mereka bisa memasaknya sesuai selera atau bahkan menjualnya untuk memenuhi kebutuhan lain. Meski demikian, diperbolehkan juga memberikan sebagian daging setelah dimasak atau dalam bentuk jamuan makan bersama, terutama jika ada keinginan untuk membantu dalam pengolahan daging kurban tersebut.

    Jumlah Daging Kurban Harus Sesuai

    Menurut Al-Buhuti, seorang ulama dari mazhab Hambali, jumlah daging kurban yang layak dibagikan adalah 1 kg. Hitungan ini dianggap sudah masuk dalam kategori sedekah. Oleh karena itu, jumlah daging yang dibagikan kepada penerima harus sesuai dengan ketentuan tersebut. Pastikan tidak ada yang mendapat kurang dari jumlah yang telah ditetapkan agar keadilan dalam pembagian tetap terjaga.

    Penerima Daging Kurban

    Daging kurban harus dibagikan kepada mereka yang berhak menerima sesuai ajaran Islam. Berikut adalah kriteria orang yang berhak menerima daging kurban:

    1. Fakir dan Miskin: Mereka yang paling membutuhkan bantuan, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 28 dan 36 yang mengutamakan fakir miskin sebagai penerima daging kurban.
    2. Orang yang Berkurban (Shohibul Kurban): Mereka yang berkurban juga berhak untuk mengambil sebagian daging kurban.
    3. Teman, Kerabat, dan Tetangga: Orang-orang terdekat seperti teman, kerabat, dan tetangga juga termasuk dalam golongan yang berhak menerima daging kurban.

    Fakir dan miskin adalah golongan yang paling diutamakan dalam pembagian daging kurban. Jika ada non-Muslim yang sangat membutuhkan bantuan dan termasuk fakir miskin, mereka juga boleh menerima daging kurban.

    Jenis Hewan Kurban

    Hewan yang digunakan untuk kurban harus sesuai dengan ketentuan dalam ajaran Islam. Berikut adalah jenis-jenis hewan yang diperbolehkan untuk kurban:

    1. Unta: Minimal berusia 5 tahun.
    2. Sapi atau Kerbau: Minimal berusia 2 tahun.
    3. Kambing atau Domba: Minimal berusia 1 tahun atau sudah berganti giginya.

    Baca Juga: Idul Adha Segera Tiba, Ini 5 Cara Memilih Hewan Kurban Sesuai Syariat

    Cara Menghitung Pembagian Daging Kurban

    Untuk para panitia kurban yang bertugas, sangat penting untuk bisa menghitung dan memperkirakan jumlah daging yang bisa dibagikan. Hal ini dilakukan agar pembagian bisa adil dan sesuai dengan jumlah mustahik yang ada.

    Contoh perhitungan: Jika satu ekor sapi memiliki berat hidup 350 kg, maka berat karkasnya adalah sekitar 50% dari berat hidupnya, yaitu 175 kg. Dari berat karkas ini, sekitar 70% adalah daging, sehingga akan didapatkan sekitar 122,5 kg daging. Selain daging, ada juga jeroan yang beratnya sekitar 10% dari berat karkas (17,5 kg), kaki rata-rata 4,5 kg, kepala sekitar 14,5 kg, dan ekor sekitar 2,45 kg. Total keseluruhan daging plus jeroan dari satu ekor sapi seberat 350 kg adalah sekitar 161,45 kg.

    Hak Panitia dalam Mendapatkan Daging Kurban

    Panitia kurban sering kali dianggap sebagai wakil dari shohibul kurban. Oleh karena itu, mereka diperbolehkan mengambil bagian dari hasil kurban, sebagaimana shohibul kurban juga boleh memakan daging kurban tersebut. Hal ini berdasarkan keadilan dan juga untuk menghargai kerja keras mereka dalam mengurus proses kurban.

    Cara Pembagian Daging Kurban

    Cara Pembagian Daging Kurban
    Panitia sedang membagikan daging kurban

    Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan saat membagikan daging kurban agar sesuai dengan syariat Islam:

    1. Waktu Penyembelihan Harus Sesuai: Penyembelihan harus dilakukan setelah sholat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah atau pada tiga hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah).
    2. Berat Daging Kurban Harus Adil: Pembagian daging harus adil, dengan berat yang sudah ditetapkan tidak boleh dikurangi.
    3. Daging Kurban Sebisa Mungkin Segera Dibagikan: Menurut Fatwa MUI Nomor 37 tahun 2019, daging kurban disunnahkan untuk segera didistribusikan setelah disembelih.
    4. Pembagian Daging Kurban Tidak Menyusahkan atau Menyulitkan: Pembagian harus dilakukan dengan cara yang memudahkan penerima, terutama fakir dan miskin. Pendataan sebelumnya sangat penting untuk memastikan semua yang berhak mendapat daging kurban.

    Memahami dan mengikuti ketentuan pembagian daging kurban sesuai dengan syariat Islam sangatlah penting. Dengan mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, ibadah kurban yang dilaksanakan diharapkan dapat diterima oleh Allah SWT.

    Jika ada kendala dalam pelaksanaan kurban, ada baiknya untuk memanfaatkan layanan donasi kurban yang menyediakan hewan kurban sesuai syariat dan membantu dalam proses pembelian hingga pendistribusian kepada penerima yang berhak.

    Dengan demikian, pelaksanaan ibadah kurban dapat berjalan dengan lancar, sesuai dengan syariat Islam, dan membawa kebahagiaan serta manfaat bagi semua pihak yang terlibat. Wallahu a’lam bish-shawab.


    FAQ

    Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering diajukan (FAQ) terkait pembagian daging kurban:

    Apa itu daging kurban?

    Daging kurban adalah daging dari hewan yang disembelih sebagai bagian dari ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha. Hewan kurban ini meliputi sapi, kerbau, kambing, unta, atau domba yang memenuhi syarat tertentu dalam Islam.

    Siapa saja yang berhak menerima daging kurban?

    Penerima daging kurban meliputi fakir dan miskin, orang yang berkurban (Shohibul Kurban), teman, kerabat, dan tetangga sekitar. Prioritas utama diberikan kepada fakir dan miskin.

    Bagaimana cara membagikan daging kurban sesuai syariat Islam?

    Pembagian daging kurban harus dilakukan sesuai dengan aturan diantaranya; dalam bentuk mentah, Jumlahnya harus sesuai ketentuan 1kg per penerima, dan dibagikan segera mungkin.

    Kapan waktu yang tepat untuk menyembelih hewan kurban?

    Waktu penyembelihan dimulai setelah sholat Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah dan dapat dilakukan hingga tiga hari tasyrik (tanggal 11-13 Dzulhijjah).

    Apakah non-Muslim bisa menerima daging kurban?

    Ya, daging kurban bisa diberikan kepada non-Muslim, terutama jika mereka termasuk fakir dan miskin yang membutuhkan.

  • Idul Adha Segera Tiba, Ini 5 Cara Memilih Hewan Kurban Sesuai Syariat

    Hari Raya Idul Adha hanya menghitung hari, umat Muslim pun mulai mencari hewan kurban terbaik. Berikut ini cara memilih hewan kurban sesuai kriteria syariat Islam.

    Tidak sedikit orang yang menjadikan hari ini sebagai momentum untuk bersedekah dengan berkurban.

    Mengutip dari NU Online, Idul Adha adalah momen untuk merenungkan peristiwa pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Ia mendapatkan perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk mengorbankan Nabi Ismail, yang tak lain adalah putranya.

    Hari Raya Idul Adha juga menjadi waktu yang tepat untuk memupuk rasa empati kepada sesama dengan cara berbagi serta bertujuan untuk menjauhkan diri dari sifat serakah, tamak, dan egois.

    Baca Juga: Cara Pembagian Daging Kurban yang Benar dan Sesuai Syariat Islam

    Untuk memilih hewan yang sehat dan sesuai dengan sunnah, penting untuk mempersiapkannya secara matang. Lalu, bagaimana cara memilih hewan kurban untuk Idul Adha sesuai ketentuan agama Islam? Simak ulasannya berikut ini.

    Cara Memilih Hewan Kurban sesuai Sunnah

    Bagi umat Muslim yang akan berkurban, tidak ada salahnya untuk melakukan persiapan sebelum memilih hewan. Agar hewan yang akan dikurbankan sehat dan sesuai dengan syariat. Selain itu, dianjurkan pula untuk memilih hewan terbaik dalam berkurban.

    Secara umum, hewan yang layak dikurbankan haruslah halal dan sehat. Namun banyaknya penjual hewan kurban, tentu membuat orang awam bingung saat memilih hewan kurban yang sesuai sunnah. Berikut ini 5 cara memilih hewan kurban Idul Adha yang baik:

    Melansir dari situs resmi Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), berikut ini adalah beberapa cara memilih hewan kurban untuk Idul Adha sesuai syariat Islam.

    1. Hewan ternak yang diperbolehkan

    Umat Islam diperintahkan untuk mengorbankan hewan ternak. Unta, domba, kambing, sapi, dan kerbau adalah hewan-hewan yang diperbolehkan untuk kurban. Seluruh hewan tersebut juga harus memenuhi persyaratan untuk dikurbankan.

    2. Hewan telah cukup umur

    Cara memilih hewan kurban Idul Adha sesuai sunnah selanjutnya yaitu, harus telah cukup umur. Dilarang hukumnya mengorbankan hewan yang masih kurang usia. Berikut ini kriteria usia hewan kurban yang diperbolehkan untuk disembelih:

    1. Domba: Minimal berumur satu tahun, atau sudah berganti gigi (musinnah).
    2. Kambing: Minimal berumur dua tahun, dan sudah memasuki tahun ketiga.
    3. Sapi atau kerbau: Minimal berumur lima tahun, dan sudah mulai memasuki tahun ke-6.

    Cara sekilas untuk mengetahui usia hewan, kamu bisa melihat giginya apakah sudah tanggal atau belum. Bila belum, artinya hewan tersebut belum dewasa dan belum layak untuk dijadikan hewan kurban Idul Adha.

    3. Hewan tidak cacat

    Sangat penting untuk memerhatikan kondisi hewan, karena menurut syariat hewan yang boleh disembelih harus dalam kondisi sehat dan tidak cacat. Pastikan hewan tidak pincang, tidak buta, telinga dalam kondisi yang baik (menurut kesepakatan ulama, jika telinga hewan kurban terdapat bekas eartag atau penanda lainnya, maka dianggap tidak cacat).

    Tanda-tanda hewan yang sehat di antaranya tidak demam, mata jernih dan tidak cekung, nafsu makan baik, cuping hidung basah (bukan karena flu), bulu bersih dan mengkilap, pernapasan serta detak jantungnya normal.

    Selain itu, pastikan hewan tidak dikebiri, testis masih lengkap serta letaknya simetris. Tidak ada salahnya untuk memeriksa kotoran hewan yang akan dibeli. Jika padat, maka hewan tersebut sehat. Namun jika kotoran cenderung caik, kemungkinkan hewan tersebut sedang sakit.

    Jika perlu, mintalah Surat Keterangan Kesehatan hewan (SKKH) sebelum membelinya untuk memastikan hewan kurban sehat. Sebab, hewan yang memiliki kecacatan tidak sah dijadikan sebagai kurban.

    4. Badannya tidak kurus

    Perhatikan pula kondisi fisik hewan. Pastikan hewan kurban lincah, nafsu makannya baik, mata bersinar, dan bulunya tidak kusam. Umumnya, hewan yang sehat memiliki badan yang gemuk dan tidak kurus.

    5. Perhatikan lokasi pembelian

    Pilihlah tempat pembelian hewan yang terpercaya. Belilah hewan kurban yang diternak di lingkungan yang bersih serta jauh dari lokasi pembuangan sampah. Sebab, hewan yang diternak di lokasi seperti ini, berpotensi mengandung zat berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi.

    Tidak hanya itu, sebaiknya pilih hewan kurban yang diternak jauh dari polusi udara, karena kondisi lingkungan akan memengaruhi tingkat stress hewan.

    Periksalah, apakah ada tumpukan kotoran yang tak dibersihkan dan cenderung jorok? Karena kondisi tempat tinggal hewan juga mempengaruhi kesehatan mereka.

    Jadi, itu dia beberapa cara memilih hewan kurban untuk Idul Adha sesuai dengan syariat Islam. Semoga 5 cara di atas bisa membantu kamu untuk memilih hewan kurban dengan baik agar ibadah kurban bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.